‎SANGATTA – Diskominfo Staper Kutai Timur (Kutim) memilih jenis layanan internet sesuai kondisi wilayah. Fiber optik (FO) dipakai di kecamatan dengan jaringan baik, wireless point-to-point di sekitar seratus desa, dan internet satelit di lokasi terjauh.
‎
‎Plt Kepala Bidang Infrastruktur TIK dan Persandian, M. Ihsan Hafid, menjelaskan alasannya saat ditemui. Menurutnya, pemilihan didasarkan pada jangkauan infrastruktur dan beban operasional.
‎
‎“Wireless point-to-point kita pakai di sekitar seratusan desa. Sisanya menggunakan layanan satelit karena sangat jauh dari jangkauan infrastruktur FO,” ujar Ihsan belum lama ini.
‎
‎Ia menyebut layanan satelit dipasang di kecamatan yang sulit jaringan, seperti Busang dan Sandaran. Di wilayah itu tidak ada fiber optik sehingga biaya operasional jauh lebih tinggi bila memakai cara lain.
‎
‎“Lebih efisien dari segi penanganan operasional dan perawatannya,” katanya.
‎
‎Untuk kecamatan yang sudah terjangkau fiber optik, dinas memakai layanan FO. Biayanya biasanya lebih besar, tetapi lebih stabil.
‎
‎“Lebih stabil karena tidak terganggu kondisi cuaca. Kalau wireless, kondisi cuaca sangat berpengaruh,” jelasnya.
‎
‎Di sejumlah UPT, perangkat satelit sudah menjadi aset sehingga tahun ini dinas hanya melanjutkan pengisian kuota. Sebanyak 191 sekolah memakai perangkat yang tercatat sebagai aset Diskominfo, tetapi kuotanya kini dibayar Dinas Pendidikan karena anggarannya telah beralih.
‎
‎Ke depan, Ihsan menyebut dinas berencana memperbanyak sistem wireless yang dapat dikelola langsung dari pusat. Caranya dengan membangun infrastruktur pendukung, termasuk menambah tower kecil.
‎
‎“Pengelolaan internet bisa terpusat di Dinas Kominfo, sementara pihak ketiga hanya untuk perawatan,” tuturnya. (adv/fan)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *