KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur belum menetapkan bentuk maupun lokasi fasilitas asrama permanen bagi pelajar dan mahasiswa asal Kutim yang menempuh pendidikan di luar daerah. Rencana tersebut masih berada pada tahap pemetaan kebutuhan dan penjajakan sejumlah alternatif.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kutai Timur, Noviari Noor, menjelaskan wacana itu muncul karena sebagian mahasiswa selama ini masih menggunakan rumah sewaan sebagai tempat tinggal selama menjalani pendidikan. Pengeluaran sewa yang berlangsung berulang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk mengkaji fasilitas yang sifatnya lebih permanen.
Namun, Pemkab Kutim belum memutuskan skema yang akan digunakan. Pemerintah masih mempertimbangkan kemungkinan membeli rumah yang sudah tersedia kemudian mengubahnya menjadi asrama, atau menyediakan lahan untuk pembangunan gedung baru.
Pembahasan juga mempertimbangkan pola yang telah diterapkan sejumlah daerah lain yang memiliki asrama permanen bagi pelajar dan mahasiswa mereka. Kutim perlu menyesuaikan konsep tersebut dengan kondisi mahasiswa yang tersebar di berbagai wilayah.
Sebelum menentukan pilihan, pemerintah daerah berencana melakukan survei. Pemetaan itu diperlukan untuk mengetahui jumlah kebutuhan, lokasi mahasiswa, serta pilihan tempat yang memungkinkan dijadikan fasilitas bersama.
“Kita masih perlu melihat langsung kebutuhannya melalui survei. Salah satu kemungkinan, pemerintah membeli rumah yang tersedia kemudian dilakukan renovasi agar bisa dimanfaatkan sebagai asrama,” ujar Noviari.
Pilihan pengadaan rumah dan renovasi menjadi salah satu skenario yang sedang dipertimbangkan. Di sisi lain, pemerintah juga dapat memilih membeli lahan apabila pembangunan gedung baru dinilai lebih sesuai. Kedua skema tersebut masih dalam pembahasan dan belum menjadi keputusan resmi.
Sebaran mahasiswa menjadi pertimbangan lain dalam menentukan pola penyediaan fasilitas. Dalam pembahasan bersama organisasi mahasiswa, terdapat sembilan cabang yang menjadi perhatian pemerintah daerah. Kondisi tersebut membuat kebutuhan asrama perlu dipetakan berdasarkan wilayah tempat mahasiswa menempuh pendidikan.
“Kalau nantinya diputuskan menggunakan pola permanen, tentu pemerintah harus menyiapkan anggaran untuk pengadaan. Bisa saja membeli rumah di lokasi yang strategis lalu direnovasi, atau menyiapkan lahan untuk pembangunan asrama,” jelasnya.
Hasil survei nantinya akan menjadi dasar pembahasan lanjutan bersama perangkat daerah terkait. Beberapa pihak yang akan dilibatkan antara lain Dinas Pekerjaan Umum, Kesra, dan Dinas Pendidikan. Dengan tahapan tersebut, rencana asrama permanen bagi mahasiswa Kutim di luar daerah masih menunggu hasil pemetaan sebelum masuk ke tahap pengadaan ataupun pembangunan.(adv/mei)

