Kutai Timur, – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan teknis yang tidak mudah. Keberadaan deposit batubara di sejumlah wilayah membuat titik api tergolong sulit dipadamkan meski sudah disiram air, terlebih saat cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino melanda daerah tersebut
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, menjelaskan bahwa wilayah Kutai Timur pada dasarnya sudah memiliki potensi suhu panas akibat keberadaan tambang batubara. Kondisi ini menjadi semakin parah ketika fenomena El Nino datang, sehingga memicu munculnya titik-titik api yang sulit ditangani secara konvensional di lapangan.
”Di Kutai Timur kan walaupun tidak ada El Nino, panasnya tetap ada karena ada batubara. Nah, ditambah dengan adanya El Nino ini ya semakin panas. Ada beberapa titik tempat yang kata teman-teman di lapangan susah dipadamkan karena ada batubarannya. Batubara itu kan semakin kena air semakin susah,” ungkap Sulastin belum lama ini.
Menghadapi kendala teknis tersebut, BPBD Kutim memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama pihak swasta dan instansi terkait. Salah satu bentuk konkret sinergi ini adalah pelibatan 31 personel dari unit TP 879 yang disiagakan secara penuh untuk mengatasi ancaman kebakaran.
Menghadapi kendala teknis tersebut, BPBD Kutim memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama pihak swasta dan instansi terkait. Salah satu bentuk konkret sinergi ini adalah pelibatan 31 personel dari unit TP 879 yang disiagakan secara penuh untuk mengatasi ancaman kebakaran.
”Kita juga sekarang ada unit TP 879 berstandby di sini 31 orang, mereka diberdayakan sampai 24 jam. Setiap 24 jam kalau enggak ada mereka ini, itulah pentingnya kolaborasi sehingga kita bisa menangani dengan baik,” jelas Sulastin.
Selain pengerjaan personel siaga, dukungan penuh juga datang dari perusahaan swasta di sekitar wilayah operasional, salah satunya PT Kaltim Prima Coal (KPC). Menurut Sulastin, pihak perusahaan selalu responsif dan bergerak cepat mengirimkan bantuan armada maupun keahlian pemadaman khusus batubara, tanpa mengenal waktu.
”Tapi kita koordinasi dengan pihak perusahaan, mereka langsung datang karena tahu caranya bagaimana memadamkan itu. Apalagi KPC, mereka sangat aware sekali. Mau tengah malam, mau jam berapa kita informasikan, mereka pasti datang membantu,” tambahnya.
Langkah antisipasi ini telah dirancang BPBD Kutim jauh sebelum dampak El Nino memuncak melalui rapat koordinasi, inventarisasi peralatan, serta pemetaan personel bersama seluruh stakeholder. Berkat kolaborasi 24 jam antara pemerintah, unit siaga, dan pihak perusahaan, penanganan karhutla di Kutai Timur sejauh ini dapat terkendali dengan baik. (adv/fan).

Titik Api Mengandung Batubara Sulit Dipadamkan, BPBD Kutim Gandeng KPC dan Unit TP 879 Siaga 24 Jam
