SANGATTA — Usaha kuliner tradisional Beppa Janda Juragan yang berlokasi di Teluk Kaba, Kilometer 28 Poros Sangatta, terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu oleh-oleh khas yang diminati masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara. Usaha ini dikelola oleh Zulkarnain, yang fokus mengembangkan brand sejak 2015, meski usaha keluarganya telah berjalan turun-temurun sejak 2005.

Zulkarnain menjelaskan, nama “Juragan” dipilih karena memiliki filosofi tersendiri. Menurutnya, juragan bukanlah sosok seperti raja yang berjarak, melainkan figur yang dekat dengan masyarakat dan memiliki pola pikir mandiri serta cepat bertindak. “Brand juragan itu unik dan membumi,” ujarnya.

Saat ini, Beppa Janda Juragan memiliki satu sentra produksi dan membina sekitar 15 outlet mitra di sekitarnya. Adapun tim inti yang terlibat langsung dalam produksi berjumlah sekitar 15 orang. Proses produksi masih dilakukan secara manual demi menjaga keaslian rasa.

Dalam satu hari, usaha ini mampu memproduksi sekitar 10.000 hingga 11.000 biji Beppa Janda. Dengan harga jual saat ini sebesar Rp1.200 per biji, omzet harian yang dihasilkan berkisar di angka Rp12 juta. Meski pada musim liburan Natal dan Tahun Baru terjadi peningkatan permintaan, Zulkarnain menegaskan pihaknya memilih menjaga stabilitas produksi ketimbang mengejar target berlebihan. “Kami lebih memilih stabil, baik musim libur maupun tidak,” katanya.

Terkait pendampingan pemerintah, Zulkarnain menyebut sejauh ini pihaknya lebih sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata. Namun, pendampingan dari dinas lain dinilai belum signifikan. “Kami mencoba mandiri sebagai UMKM,” tuturnya.

Soal inovasi, Beppa Janda Juragan tetap mempertahankan rasa original khas Sulawesi. Beberapa percobaan varian rasa sempat dilakukan, seperti campuran gula merah, namun kurang mendapat respons pasar. Inovasi yang bertahan hingga kini adalah penyajian Beppa Janda yang disandingkan dengan minuman jahe saraba.

Menariknya, produk ini juga telah menjangkau pasar internasional secara personal. Beppa Janda Juragan pernah rutin dikirim ke Qatar, China, hingga Arab Saudi melalui jalur titip (jastip), serta kerap dibawa sebagai bekal jamaah umrah. Selain itu, wisatawan asing yang berkunjung ke Kutai Timur juga kerap singgah atas rekomendasi pemandu wisata.

Meski belum memanfaatkan penjualan digital secara penuh, Zulkarnain menegaskan keputusan tersebut diambil demi menjaga nilai keaslian dan pengalaman langsung bagi konsumen. “Kami ingin orang datang langsung ke Teluk Kaba, menikmati Beppa Janda dan saraba di tempat asalnya,” ujarnya.

Ke depan, Zulkarnain berharap Beppa Janda Juragan dapat menjadi salah satu identitas kuliner khas Kutai Timur. “Seperti daerah lain yang punya ciri khas, kami ingin Beppa Janda hadir sebagai ikon oleh-oleh Kutim dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya.(Nad)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *