SANGATTA – Diskominfo Staper Kutai Timur (Kutim) menyebut banyak wilayah yang selama ini disebut blank spot sebenarnya hanya mengalami sinyal lemah. Data blank spot dari pusat juga berbeda sehingga perlu dikaji ulang.
Plt Kepala Bidang Infrastruktur TIK dan Persandian Diskominfo Staper Kutim, M. Ihsan Hafid, mengatakan data dari kementerian hanya mencatat tiga titik blank spot di Kutim. Angka itu tidak sama dengan data dari Kementerian Dalam Negeri.
“Ada perbedaan data sehingga kami perlu mengkaji ulang,” ujar Ihsan belum lama ini.
Menurutnya, masalah blank spot dipengaruhi banyak faktor. Di Kutim, ada wilayah yang sinyalnya lemah dan tidak bisa dikategorikan blank spot karena masih ada tower di sekitarnya.
“Kalau begitu berarti kita tinggal memperkuat dari segi sinyalnya saja,” katanya.
Salah satu staf Ihsan menjelaskan, blank spot berarti tidak ada sinyal sama sekali. Dari 151 desa, termasuk desa persiapan dan kelurahan, rata-rata sudah ada sinyal.
“Kadang kita bergeser sekitar lima meter sinyalnya tidak ada. Itu termasuk kategori sinyal lemah, bukan blank spot,” jelas staf tersebut.
Ihsan menambahkan, sinyal di sejumlah wilayah tampak penuh di ponsel tetapi tidak dapat dipakai. Masalahnya ada pada kapasitas BTS atau bandwidth.
Untuk mengatasinya, Diskominfo Staper telah membahas penambahan BTS dengan kementerian terkait. Permohonan berasal dari surat desa yang kemudian diteruskan dinas.
“Kami membantu desa yang bermohon sehingga bisa menambah BTS lagi di wilayah tersebut,” tuturnya.
Ia berharap permohonan itu direspons baik dan pembangunannya dipercepat.
Ihsan juga menegaskan, penyediaan layanan di wilayah blank spot atau 3T (terluar, tertinggal, terisolasi) merupakan kewajiban provider, bukan bentuk kerja sama dengan pemerintah daerah. (adv/fan).

