Kutai Timur – Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kutai Timur kembali menggelar kejuaraan karate sebagai upaya menciptakan regenerasi atlet sejak usia dini. Kegiatan ini merupakan event karate kedua yang dilaksanakan FORKI Kutai Timur setelah sukses menggelar event serupa pada tahun lalu.
Ketua FORKI Kutai Timur, Sayid Anjas, mengatakan bahwa kejuaraan ini dirancang khusus untuk menjaring dan membina atlet-atlet muda karate di Kutai Timur secara berkelanjutan.
“Event ini adalah wacana untuk menciptakan regenerasi atlet karate di Kutai Timur. Ini adalah event kedua setelah yang pertama kami lakukan tahun lalu, dan fokus utamanya memang untuk pembinaan atlet sejak usia dini,” ujar Sayid Anjas.

Ia menjelaskan, kejuaraan ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), di mana cabang olahraga karate ditargetkan mampu meraih prestasi, termasuk medali emas.
“Ujungnya tentu untuk persiapan Porprov. Kami punya target emas di cabang olahraga karate, dan event ini tidak lepas dari binaan KONI. Anggaran pembinaan yang ada kami desain untuk menciptakan atlet-atlet potensial, termasuk melalui program karatekid,” tambahnya.
Menurutnya, pembinaan sejak usia anak-anak menjadi fokus utama karena proses pembentukan atlet membutuhkan waktu jangka panjang. Meski demikian, FORKI Kutai Timur tetap menyiapkan atlet untuk menghadapi agenda kompetisi besar, termasuk Porprov 2026.
Dalam kejuaraan ini, terdapat dua kategori utama yang dipertandingkan, yakni kata dan kumite, dengan berbagai kelas usia dan berat badan. Setiap atlet bahkan berkesempatan mengikuti lebih dari satu kelas, tergantung hasil evaluasi teknis.
Kejuaraan karate lokal ini diikuti oleh 277 atlet yang berasal dari Kutai Timur dan Kota Bontang. Kehadiran atlet dari Bontang disambut baik oleh panitia, mengingat wilayah tersebut merupakan daerah tetangga yang masih masuk dalam kategori lokal.
“Event kali ini bersifat internal lokal Kutai Timur–Bontang. Bontang kami anggap bagian dari lokal karena bertetangga dan sama-sama ingin berpartisipasi,” jelasnya.
Untuk sistem penghargaan, Sayid Anjas menegaskan bahwa seluruh standar pertandingan telah mengikuti regulasi resmi karate, mulai dari pemberian medali emas, perak, dan perunggu hingga uang pembinaan.
Kejuaraan ini diikuti oleh atlet usia pra dini, dini, hingga kadet, mulai dari anak SD kelas 1 hingga tingkat SMP. FORKI Kutai Timur berharap melalui event ini akan lahir atlet-atlet karate berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat provinsi maupun nasional.(Mei)
