Sangatta – Rencana pembongkaran kawasan Taman Bersemi atau yang lebih dikenal dengan STQ mulai menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku usaha yang sudah lama menggantungkan hidup di area tersebut. Salah satunya adalah Sulastri, pemilik salah satu kedai yang telah beroperasi lebih dari satu dekade.
Sulastri mengungkapkan bahwa isu pembongkaran ini langsung memengaruhi pendapatan usahanya. Menurutnya, banyak warga mengira kawasan itu sudah tidak beroperasi lagi. “Orang tahunya mau dibongkar, padahal belum jelas kabarnya,” ujarnya.
Pendapatan ini terasa cukup menurun. Jika sebelumnya omzet harian bisa berada di atas Rp500 ribu, kini hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Kondisi tersebut membuat usaha yang selama ini stabil menjadi penuh ketidakpastian.
Dampak lain juga dirasakan pada jumlah tenaga kerja. Sulastri mengaku terpaksa mengurangi karyawan karena omzet yang merosot. “Setelah pengumuman itu, banyak yang di-off. Sekarang tinggal dua orang saja,” tuturnya.
Sudah lebih dari 10 tahun Sulastri bertahan di STQ. Ia menyebut usaha ini mulai dirintis sekitar tahun 2014 dan menjadi sumber penghidupan utama keluarganya. Karena itu, rencana pembongkaran menjadi isu besar bagi kelangsungan usahanya.
Saat ditanya apakah sudah menyiapkan lokasi baru, Sulastri mengaku belum memiliki rencana tersebut. “Belum ada, masih nunggu ada modal lagi. Jadi bertahan di sini dulu,” ucapnya.
Jika pembongkaran benar-benar terjadi, Sulastri hanya bisa pasrah. Ia menyadari bahwa keputusan pemerintah tidak bisa ditolak, namun berharap adanya pertimbangan bagi para pedagang kecil.
Ia pun menitipkan pesan agar kawasan STQ tetap dipertahankan. “STQ harus berdiri terus, jangan dibongkarlah, karena di sini kita cari nafkah,” ujarnya. Menurutnya, renovasi tidak masalah selama tidak menghilangkan keberadaan kedai-kedai yang memberi kehidupan bagi banyak keluarga.(Mei)
