KUTAI TIMUR, INSIGHT BORNEO – Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang baru, Yan, menargetkan peningkatan kesejahteraan petani sebagai salah satu fokus utama kepengurusan masa bakti 2026–2031.

Yan mengatakan, APKASINDO akan menjadi wadah bagi petani kelapa sawit untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, sekaligus menjembatani komunikasi dan mencari solusi bersama pemerintah maupun perusahaan perkebunan.

Menurutnya, pengelolaan perkebunan kelapa sawit merupakan sebuah sistem yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, persoalan yang muncul tidak seharusnya hanya dibebankan kepada perusahaan atau pemerintah, tetapi perlu diselesaikan melalui kolaborasi.

“Pertama, kita ingin meningkatkan kesejahteraan para petani. Kedua, kita ingin menjadi wadah para petani untuk menyampaikan segala persoalan yang ada untuk kita fasilitasi kepada pemerintah maupun perusahaan,” ujar Yan.

Ia menilai, upaya meningkatkan kesejahteraan petani juga perlu diiringi dengan edukasi mengenai kualitas tandan buah segar (TBS). Menurutnya, harga sawit tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan, tetapi juga kualitas buah yang dihasilkan petani.

Oleh sebab itu, APKASINDO akan mendorong petani memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga TBS, sekaligus meningkatkan kualitas hasil perkebunan agar memiliki nilai jual lebih baik.

“Tidak bisa harga itu hanya naik oleh karena perusahaan saja kalau kontribusi para petani memberikan buah yang jelek atau hal-hal yang jelek. Jadi, kita juga akan mengedukasi petani untuk memahami hal-hal yang menjadi penyebab turunnya harga buah sawit,” jelasnya.

Selesaikan Persoalan Perkebunan

Yan juga menyoroti perkembangan perkebunan kelapa sawit di Kutim yang terus diikuti berbagai persoalan. Seiring bertambahnya kebun dan meningkatnya aktivitas perkebunan, menurutnya, diperlukan wadah yang mampu membantu petani mencari jalan keluar atas kendala yang dihadapi.

Melalui kepengurusan baru, APKASINDO ingin memperkuat peran organisasi dalam memfasilitasi persoalan petani, baik yang berkaitan dengan tata kelola perkebunan maupun hubungan dengan perusahaan dan pemerintah.

Ia berharap keberadaan organisasi tersebut dapat membantu petani berkembang, tidak hanya dari sisi luas lahan, tetapi juga dari segi kemampuan mengelola kebun dan meningkatkan produktivitas.

Dorong Petani Naik Kelas dan Berkontribusi terhadap PAD

Selain meningkatkan kesejahteraan, Yan menilai penguatan legalitas dan sertifikasi perkebunan menjadi bagian penting dalam mendorong petani sawit berkembang menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri.

Ia menyebut sertifikasi melalui skema Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan perkebunan berkelanjutan. Penguatan legalitas dan pemenuhan persyaratan perizinan juga dinilai penting bagi petani yang ingin mengembangkan usahanya.

“APKASINDO ini mendorong petani-petani kita tidak hanya berhenti di tingkat petani, tetapi sebagai pengusaha ke depannya. Dengan kontribusi seperti ini, tentu saja akan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan PAD kita,” ungkapnya.

Yan turut menyoroti kontribusi sektor perkebunan kelapa sawit terhadap penerimaan negara dan daerah. Ia berharap ke depan terdapat perhatian lebih terhadap besaran kontribusi sektor sawit yang dapat kembali mendukung pembangunan daerah.

Menurutnya, hal tersebut perlu diperjuangkan melalui kebijakan yang sesuai dengan kewenangan pemerintah pusat dan daerah.

Keanggotaan Terbuka bagi Petani Sawit

Dalam memperluas jangkauan organisasi, Yan menjelaskan bahwa APKASINDO Kutim membuka kesempatan bagi petani sawit untuk bergabung tanpa menetapkan batas minimal luas lahan yang tinggi.

Petani dengan kepemilikan kebun seluas satu hektare sudah dapat menjadi anggota organisasi tersebut.

“Tidak ada batas minimal yang tinggi. Satu hektare sudah bisa bergabung. Tujuan kita meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan produksi, mencari solusi, dan memberikan edukasi bagaimana seorang petani bisa berkebun dengan baik,” katanya.

Ia menegaskan, peningkatan produktivitas menjadi salah satu perhatian organisasi. Dengan demikian, petani tidak hanya berorientasi menambah luas kebun, tetapi juga mengoptimalkan hasil dari lahan yang dimiliki.

Saat ini, kepengurusan DPD APKASINDO Kutim tercatat memiliki 87 anggota. Yan menyebut para anggota tersebut telah mewakili 18 kecamatan di Kabupaten Kutai Timur.

Ke depan, organisasi akan memperluas keanggotaan dengan memperkuat keterwakilan petani di setiap kecamatan.

Dengan jaringan yang telah terbentuk, Yan berharap APKASINDO semakin dekat dengan petani dan mampu menjalankan fungsi pendampingan, edukasi, serta fasilitasi persoalan perkebunan secara lebih luas.

Melalui kepengurusan periode 2026–2031, APKASINDO Kutim diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara petani, pemerintah, dan perusahaan, sekaligus mendorong peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani kelapa sawit di Kutai Timur.

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *