KUTAI TIMUR – Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengajak seluruh kecamatan di Kabupaten Kutai Timur untuk kembali menghidupkan tradisi dan ritual adat sebagai upaya menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat pelestarian lingkungan dan sejarah daerah.

Ajakan tersebut disampaikan Ardiansyah saat menghadiri prosesi adat Belian Semegah mengolor naga pada Minggu 12 Juli 2026 di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang tetap konsisten mempertahankan tradisi adat Kutai, termasuk prosesi mengarak naga yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan budaya di desa tersebut.

Menurut Ardiansyah, selama tiga hingga empat tahun terakhir terdapat dua desa yang secara rutin melaksanakan prosesi adat setiap tahun, yakni Desa Sekerat di Kecamatan Bengalon dan Desa Marukangan di Kecamatan Sandaran.

“Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir ini ada dua desa yang rutin melaksanakan prosesi adat setiap tahunnya. Hari ini kita berada di Desa Sekerat dengan salah satu prosesi mengarak naga. Sementara Desa Marukangan juga tetap menjaga tradisi meski prosesi yang dilaksanakan berbeda karena kondisi geografisnya jauh dari kawasan pesisir,” ujarnya.

Ia memberikan penghargaan kepada kedua desa tersebut karena dinilai berhasil menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman. Ke depan, pemerintah daerah berharap semakin banyak kecamatan yang kembali menghidupkan ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh adat.

“Mudah-mudahan pada tahun-tahun mendatang semakin banyak kecamatan yang siap menghidupkan kembali adat dan budaya melalui berbagai ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh adat dan budaya,” katanya.

Ardiansyah juga menegaskan bahwa Kutai Timur kini telah memiliki struktur kelembagaan adat yang diawali dengan pembentukan Majelis Adat Kutai Timur. Menurutnya, keberadaan majelis adat memiliki peran penting dalam memilih pemangku adat hingga tingkat kecamatan agar pelestarian budaya dapat berjalan lebih terarah.

Selain menyoroti pelestarian budaya, Bupati mengungkapkan bahwa Kabupaten Kutai Timur saat ini sedang menjalani proses penilaian kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Ia menilai keberhasilan geopark tidak hanya ditentukan oleh kekayaan geologi, tetapi juga oleh komitmen masyarakat dalam menjaga adat, budaya, lingkungan, serta situs-situs bersejarah.

“Identitas Geopark tidak bisa dipisahkan dari sejarah, adat, dan budaya masyarakatnya. Karena itu, pelestarian budaya, lingkungan, hingga peninggalan sejarah menjadi bagian penting dalam proses penilaian yang sedang berlangsung,” jelasnya.

Ia mencontohkan kunjungan tim verifikasi ke Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang, yang melihat langsung keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan, budaya, dan peninggalan purbakala yang menjadi bagian dari kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Ardiansyah juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dengan upaya pelestarian lingkungan. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan alam agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Kita boleh memanfaatkan sumber daya alam untuk pembangunan dan perekonomian, tetapi jangan sampai merusak alam. Alam yang terjaga akan terus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar Desa Sekerat, khususnya sektor pertambangan dan industri semen, Ardiansyah meminta agar terus meningkatkan kontribusi terhadap pembangunan daerah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.

Di akhir sambutannya, Bupati menyampaikan dukungan terhadap rencana Kesultanan Kutai untuk memulai rangkaian kegiatan Erau Adat di Kutai Timur. Ia berharap keberadaan pemangku adat dan kegiatan budaya tersebut mampu memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kutai Timur.

Ardiansyah juga mengingatkan bahwa Kutai memiliki nilai sejarah yang sangat besar sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Menurutnya, sejarah tersebut harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar menjadi kebanggaan sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Kutai Timur.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kita semua. Kutai tercatat sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Sejarah ini harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya melalui pelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendahulu,” pungkasnya.(Mei)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *