KUTAI TIMUR – Kedatangan tim verifikasi menuju penetapan kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional disambut positif oleh Pemerintah Kecamatan Bengalon. Momentum tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang dimiliki wilayah tersebut.

Camat Bengalon, Muhamad Harun Alrasyid, berharap proses penilaian yang dilakukan tim dari pusat dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang positif bagi kawasan Geopark di Kabupaten Kutai Timur.

“Alhamdulillah dengan kedatangan tim penilai Geopark dari pusat ini mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan hasil penilaiannya positif. Potensi-potensi yang ada di Bengalon ini sangat besar dan layak untuk dikenal lebih luas,” ujarnya.

Menurut Harun, status Geopark Nasional nantinya tidak hanya menjadi pengakuan terhadap kekayaan geologi kawasan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga kelestarian lingkungan serta budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menilai keberadaan Geopark dapat menjadi payung besar dalam upaya pelestarian adat dan tradisi masyarakat agar tetap hidup hingga generasi mendatang.

“Kami berharap kelestarian alam, lingkungan, dan khususnya budaya yang ada di Bengalon bisa terus dipelihara sampai anak cucu kita nanti,” katanya.

Harun menyebut sejumlah tradisi budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat Bengalon memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik Geopark. Di antaranya adalah ritual adat Belian Semega yang rutin digelar di Desa Sekerat, tradisi Mecak Undat sebagai ungkapan syukur atas panen padi, hingga berbagai kegiatan budaya masyarakat pesisir.

Selain itu, terdapat pula situs-situs geologi dan sejarah yang dinilai memiliki nilai penting, seperti kawasan Gua Tewet dan Gunung Gregek Gajah yang berada di wilayah Desa Tepian Langsat.

“Potensi-potensi seperti Belian, Mecak Undat, hingga situs geologi yang ada di sekitar kawasan ini harus terus kita lestarikan dan perkenalkan kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Terkait pengembangan destinasi wisata, Harun mengatakan bahwa selama ini masyarakat lebih mengenal Pantai Sekerat sebagai ikon wisata Bengalon. Namun ke depan, pemerintah kecamatan ingin mengangkat berbagai potensi lain agar semakin dikenal, termasuk wisata budaya dan kawasan yang masuk dalam jalur Geopark.

Menurutnya, keberadaan Geopark bukan hanya bertujuan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi identitas baru yang dapat memperkuat citra Bengalon sebagai daerah yang kaya akan budaya dan warisan alam.

“Melalui brand Geopark ini kami ingin mengangkat potensi dan identitas Bengalon agar semakin dikenal, baik dari sisi lingkungan maupun adat budaya yang ada di wilayah ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Harun juga menyinggung keberadaan buah Bengalon yang diyakini menjadi asal-usul nama daerah tersebut. Buah tersebut saat ini mulai sulit ditemukan karena jumlah pohonnya yang semakin sedikit.

“Buah Bengalon itu memang ada dan menjadi asal nama daerah ini. Namun pohonnya sudah tidak terlalu banyak dan termasuk cukup langka karena di daerah lain juga jarang ditemukan,” pungkasnya.(Nad)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *