SANGATTA – Distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kutai Timur tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) APT Pranoto melakukan penyesuaian menu menjadi makanan kering agar lebih aman, tahan lama, dan tidak mengganggu aktivitas puasa peserta didik.
Kepala SPPG APT Pranoto Kutai Timur, Dinand Perdana, mengatakan perubahan tersebut merupakan tindak lanjut arahan resmi yang diterima pihaknya oleh edaran dari Kepala Badan.
“Menu yang dipakai sekarang menu kering, artinya makanan yang bisa bertahan 4 sampai 6 jam. Jadi yang dibagikan itu seperti roti, donat, risol, dan nanti rencana puding buah,” ujar Dinand.
Menurutnya, menu yang dibagikan tetap dipastikan berasal dari produksi dapur SPPG sendiri. Pihaknya menghindari penggunaan makanan yang berisiko cepat basi, terlebih jika harus menyesuaikan jadwal distribusi selama Ramadan.
Dinand menjelaskan, distribusi MBG tetap dilakukan ke sekolah-sekolah penerima manfaat. Namun, jam distribusi tidak lagi dilakukan pagi hari seperti sebelumnya.
Jika sekolah memiliki mayoritas siswa muslim, distribusi dilakukan mendekati jam pulang, agar makanan bisa dibawa pulang dan tidak langsung dikonsumsi saat jam pelajaran.
“Kasihan guru-gurunya juga. Mereka kan mengajarkan anak-anak puasa. Kalau kita datang jam 8 seperti biasa, itu bisa mengganggu,” katanya.
Sebelum melakukan perubahan jadwal, pihaknya selalu berkoordinasi dengan PIC sekolah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Kalau sekolah tidak berkenan, tidak masalah. Kita sesuaikan distribusinya,” tambahnya.
Sementara itu, untuk sekolah negeri maupun sekolah dengan siswa non-muslim, Dinand menyebut umumnya tidak ada penolakan. Bahkan beberapa sekolah menyatakan fleksibel menerima menu kering maupun menu basah.
Selain jadwal distribusi, pola kerja dapur juga berubah selama Ramadan. Jika sebelumnya memasak dilakukan dalam skala besar sejak dini hari, kini dapur lebih banyak berfokus pada pengemasan menu ringan.
“Kami mulai habis sahur jam 5 atau paling lambat jam 6. Masaknya hanya sekitar 8 sampai 10 persen saja, menu yang simpel,” jelas Dinand.
Untuk pengantaran, jadwal menyesuaikan jam pulang sekolah. Sekolah yang pulang pukul 12.00, misalnya, akan menerima distribusi sekitar pukul 11.00. Sedangkan sekolah yang pulang lebih cepat akan menerima lebih awal.
Dalam beberapa hari terakhir, menu kering yang dibagikan SPPG APT Pranoto di antaranya roti dan donat. Selain itu, pihaknya juga mulai menguji menu risol, dan merencanakan penambahan puding buah buatan dapur.
Distribusi dilakukan menggunakan totebag khusus bertuliskan identitas SPPG. Tote bag tersebut dikembalikan dan digunakan kembali untuk pengiriman berikutnya.
“Kami siapkan dua sampai tiga kantong dengan warna atau ukuran berbeda. Kalau cuma satu dipakai sebulan, pasti kotor,” ujarnya.

Dinand juga menyinggung sistem zonasi dapur yang menjadi dasar pembagian wilayah distribusi MBG. Beberapa sekolah, seperti SMP 3, tidak masuk dalam cakupan SPPG APT Pranoto karena terdapat dapur lain yang lebih dekat.
“Supaya lebih maksimal. Kalau dapur terlalu jauh, distribusinya makan waktu,” katanya.
Ia menambahkan, wilayah Sangatta Utara menjadi kawasan dengan dapur SPPG paling padat karena jumlah penerima manfaat yang tinggi.
“Data terakhir penerima manfaat di Sangatta Utara itu mencapai 70 ribu,” sebut Dinand.
Saat ini, SPPG APT Pranoto melayani enam sekolah dan satu posyandu dengan total penerima manfaat sekitar 2.750 orang.
Selain sekolah, SPPG APT Pranoto juga mendistribusikan MBG untuk kelompok B3 (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui) melalui posyandu. Distribusi dilakukan dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis.
Menurut Dinand, distribusi untuk posyandu lebih sensitif karena kebutuhan gizi dan keamanan pangan harus lebih ketat.
“Balita itu tidak boleh sembarangan. Teksturnya harus lembut, karena kalau keras bisa berisiko,” ujarnya.
Menu posyandu yang dibagikan selama Ramadan di antaranya roti abon, roti kacang hijau, donat, susu UHT, serta susu khusus ibu hamil.
Dinand menegaskan pihaknya menjaga prinsip “zero mistake” untuk menghindari kejadian luar biasa (KLB) seperti yang sempat terjadi di beberapa daerah lain.
“Yang paling penting itu makanan harus segar. Jangan masak hari ini, besok baru distribusi. Itu bahaya,” tegasnya.
Hingga saat ini, ia memastikan distribusi MBG di Kutai Timur masih berjalan aman tanpa laporan KLB.
Menanggapi wacana MBG diganti bantuan tunai, Dinand menyatakan pihaknya tetap menjalankan tugas sesuai fungsi dapur SPPG.
Meski begitu, ia menyebut pihaknya siap mengikuti kebijakan pemerintah apabila terdapat dasar hukum dan surat resmi yang menetapkan perubahan.(Mei)
