SANGATTA – Perubahan kondisi lingkungan dan keamanan di kawasan Teluk Lombok, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, memaksa pemerintah daerah meninjau ulang arah pengelolaan kawasan wisata pesisir tersebut. Pantai yang dulu menjadi destinasi favorit kini menghadapi abrasi parah serta risiko serangan buaya, sehingga tak lagi ideal sebagai lokasi wisata konvensional.

Plt Camat Sangatta Selatan, Rusmiati, menjelaskan bahwa abrasi telah menghilangkan sebagian besar garis pantai berpasir yang menjadi daya tarik utama Teluk Lombok. Situasi ini diperparah oleh sejumlah insiden buaya yang menurunkan rasa aman pengunjung.

“Faktor keamanan menjadi perhatian serius. Wisata tidak bisa berkembang tanpa jaminan keselamatan,” kata Rusmiati, Minggu (28/12).

Sebagai langkah adaptif, warga pesisir Teluk Lombok telah direlokasi ke kawasan daratan melalui program bantuan perumahan. Area pantai yang kini kosong tersebut akan diarahkan menjadi zona pengembangan wisata dengan konsep baru yang lebih terkontrol dan berkelanjutan.

Rencana revitalisasi Teluk Lombok saat ini telah diusulkan melalui Dinas Pariwisata dan masuk dalam perencanaan anggaran APBN Kementerian Pariwisata tahun 2026. Program ini mencakup penataan kawasan, pembangunan fasilitas pendukung, serta penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM.

Namun, pelaksanaannya masih bergantung pada kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. “Belum ada kepastian apakah program ini bisa berjalan sesuai rencana,” ujar Rusmiati.

Sementara itu, aktivitas wisata masih berlangsung terbatas. Pada momen libur Natal dan Tahun Baru, data Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mencatat hanya belasan kendaraan yang berkunjung, jauh menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Ke depan, pemerintah kecamatan tidak hanya fokus pada Teluk Lombok, tetapi juga mendorong transformasi Sangatta Selatan sebagai kawasan wisata terpadu. Konsep ini menggabungkan wisata bahari, mangrove, agro, serta wisata edukasi berbasis kearifan lokal.

Beberapa potensi yang tengah dikembangkan antara lain wisata mangrove, edukasi tanaman gaharu, serta kampung wisata berbasis pertanian dan pesisir. Pemerintah berharap pendekatan ini mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat setempat.

“Pariwisata harus menjadi solusi jangka panjang, bukan sekadar tujuan rekreasi,” pungkas Rusmiati.(IB)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *