Balikpapan – Suasana libur akhir pekan di sejumlah rest area dan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan terasa lebih hidup berkat alunan musik tradisional. Musik tersebut dimainkan oleh Rahmad Bagundal, seniman muda asal Kalimantan yang kerap menghibur para pengunjung di ruang-ruang publik.

Rahmad menuturkan, aktivitasnya bermain musik di rest area maupun bandara bukan untuk meminta imbalan, melainkan semata-mata sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat. Ia memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lokasi, seperti area umum dan sistem suara.

“Saya di sini hanya menghibur pengunjung. Biasanya saya main sendiri di rest area, dan kalau akhir pekan juga di Bandara Balikpapan,” ujar Rahmad.

Rahmad menegaskan dirinya berdarah Kalimantan dan sangat menjunjung tinggi budaya daerah. Selain di Balikpapan, ia juga kerap tampil di Samarinda, terutama di rest area yang ramai dikunjungi masyarakat saat musim liburan.

Menurutnya, tingkat kunjungan masyarakat meningkat signifikan pada masa libur sekolah, perayaan Natal, hingga agenda keagamaan seperti haul di Martapura.

“Kalau liburan pasti ramai. Anak-anak sekolah libur, ada yang mau ke acara haul di Martapura, ada juga yang merayakan Natal,” katanya.

Rahmad mengaku baru menekuni permainan alat musik tradisional selama dua tahun terakhir. Sebelumnya, ia memiliki latar belakang sebagai penari, yang turut memengaruhi gaya busana dan penampilannya saat tampil di depan umum.

Di Samarinda, Rahmad menyebut terdapat komunitas seniman alat musik tradisional. Namun, ia lebih fokus membawakan lagu-lagu cover dibandingkan musik tradisi murni. Ia juga menyebut sejumlah nama senior yang menjadi panutan, seperti Ali fakot, Yo Moris, dan Aditya Clara.

“Mereka itu sesepuh dan senior saya. Saya ini masih pemula,” ujarnya dengan rendah hati.

Selama beraktivitas, Rahmad mengaku belum pernah mengalami penolakan, baik dari pengelola tempat maupun pihak sponsor. Justru, sebagian besar undangan tampil datang langsung dari pihak penyelenggara atau pengelola pusat perbelanjaan dan ruang publik.

Menutup perbincangan, Rahmad berharap generasi muda, khususnya Gen Z di Samarinda dan Kalimantan, dapat ikut berperan dalam melestarikan alat musik tradisional.

“Harapan saya, anak muda yang hobi alat musik tradisional bisa melestarikannya. Jangan sampai punah. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” pungkasnya.(IB)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *