Kutai Timur, –  Jumlah titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan secara signifikan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jumlah hotspot di wilayah Kutim kini menyusut menjadi 139 titik, setelah sempat melonjak hingga mencapai angka 300-an titik pada dua hingga tiga hari sebelumnya.
‎
‎Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur, Sulastin, mengungkapkan bahwa penurunan intensitas titik panas tersebut terpantau per tanggal 27 September. Dari total 139 titik panas yang terdeteksi BMKG, mayoritas berada pada tingkat kepercayaan menengah, yakni sebanyak 136 titik, sementara kategori tingkat kepercayaan tinggi hanya tersisa 3 titik.
‎
‎”Titik hotspot kita per hari ini tanggal 27 sudah kurang sih dibanding kemarin 300-an lebih. Kutai Timur itu ada titik hotspot-nya 136, tapi menengah masih ya. Yang 136  jadi totalnya 139 titik,” ujar Kepala BPBD Kutim, Sulastin di kantor BPBD belum lama ini.
‎
‎Sulastin menjelaskan, angka tersebut menempatkan Kutai Timur pada kondisi yang relatif berada pada tingkat menengah jika dibandingkan dengan wilayah tetangga seperti Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser yang mencatatkan angka titik panas cukup tinggi. Sementara untuk wilayah lain seperti Kota Bontang dan Samarinda, dampak yang dirasakan dominan berupa paparan asap kiriman.
‎
‎Meskipun tren titik panas mulai melandai seiring munculnya hujan di beberapa wilayah kecamatan seperti Sangata Utara, Sangata Selatan, dan Rantau Pulung, akumulasi kejadian kebakaran di Kutai Timur tetap terbilang tinggi. Berdasarkan rekapitulasi data penanganan bencana oleh BPBD Kutim, tercatat sebanyak 145 kejadian karhutla yang tersebar di seluruh kecamatan sejak musim kemarau berlangsung.
‎
‎”Jumlah kejadiannya perharinya ada 145 kejadian sudah nih, sejauh ini. Jadi ini semua kecamatan ya, Sengata Utara, Sengata Selatan, semua kecamatan. Terbanyak Sangatta Utara, Sangatta Selatan yang terbanyak itu,” kata Sulastin
‎
‎Dari total kejadian tersebut, wilayah Sangata Utara dan Sangata Selatan tercatat sebagai lokasi yang paling sering mengalami kejadian karhutla secara berulang. Sebagai langkah penataan administrasi pelaporan bencana, pihak BPBD Kutim juga menggelar rapat koordinasi bersama BPBD Provinsi dan BNPB pusat melalui Zoom untuk menyamakan persepsi terkait sinkronisasi data luas lahan terdampak serta penanganan karhutla di lapangan. (adv/fan).

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *