KUTAI TIMUR — Sebanyak 15 desa di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ditetapkan sebagai Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) dalam program Desa Siaga TBC Provinsi Kalimantan Timur. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan penanggulangan TBC sekaligus mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Peluncuran Desa Siaga TBC dan Workshop Petunjuk Teknis Penanggulangan Terintegrasi AIDS-TBC-Malaria (ATM) digelar di Ruang Ruhuy Rahayu, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Selasa (11/8/2026). Kegiatan dibuka Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji dan diikuti perwakilan pemerintah kabupaten/kota se-Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan keterlibatan 15 desa dari Kutim menjadi langkah penting untuk memperkuat penanganan TBC hingga tingkat paling dekat dengan masyarakat.
“Ini menjadi langkah penting karena penanggulangan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Dibutuhkan sinergi pemerintah, desa, masyarakat, serta seluruh pihak terkait agar penemuan kasus dan penanganannya dapat dilakukan lebih cepat,” kata Yuwana.
Ia menjelaskan, secara keseluruhan terdapat 78 desa di Kalimantan Timur yang telah menjadi Desa Siaga TBC. Menurutnya, keberadaan desa siaga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gejala TBC, mendorong pemeriksaan dini, sekaligus memastikan warga yang terindikasi mendapatkan penanganan sesuai ketentuan.
Yuwana menilai upaya tersebut semakin penting mengingat beban kasus TBC di Indonesia masih tinggi. Indonesia saat ini berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India.
“Target kita adalah eliminasi TBC pada 2030. Karena itu, intervensinya harus diperkuat dari sekarang. Desa memiliki peran strategis karena berada paling dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Selain jajaran Dinas Kesehatan, kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kepala Bidang Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), perwakilan Bappeda, perwakilan Dinas Sosial, serta Pendamping Desa tingkat kabupaten.
Menurut Yuwana, keterlibatan lintas sektor menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Penanggulangan TBC tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyangkut kondisi sosial, lingkungan, kepedulian masyarakat, hingga dukungan pemerintah desa.
Ia berharap desa-desa lain di Kutim dapat mengikuti langkah 15 desa yang telah menjadi Desa Siaga TBC. Dengan semakin banyak desa yang terlibat, upaya deteksi dini, pencegahan penularan, pendampingan pasien, dan edukasi masyarakat diharapkan semakin kuat.
“Harapannya desa-desa yang lain juga segera menyusul menjadi Desa Siaga TBC. Semakin kuat kolaborasi di tingkat desa, semakin besar peluang kita menekan kasus dan mencapai eliminasi TBC pada 2030,” pungkasnya.(Nad)
