SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus memperkuat pengembangan industri tenun tradisional sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Angkatan III yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur, Bukit Pelangi, Rabu (5/8/2026).

Pelatihan yang merupakan kolaborasi antara Disperindag dan Dekranasda Kutai Timur ini diikuti 10 pengrajin dari Kecamatan Kongbeng, Kaliorang, dan Sangatta Utara. Selama 10 hari ke depan, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif dari instruktur tenun asal Kediri, Jawa Timur.

Kepala Disperindag Kutai Timur Nora Ramadhani mengatakan, pelatihan lanjutan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam membangun industri tenun yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, penguasaan teknik menenun melalui ATBM menjadi bekal penting agar para pengrajin mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas, memiliki daya saing, sekaligus bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kami berharap teman-teman penenun ini mampu mandiri secara ekonomi melalui karya-karya tenun yang dihasilkan. Pelatihan ini bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membuka peluang usaha bagi para pengrajin,” ujar Nora.

Ia menjelaskan, peserta akan mempelajari berbagai materi mulai dari pengoperasian ATBM, peningkatan kualitas hasil tenun, hingga pengembangan motif yang memiliki nilai jual di pasar.

Lebih jauh, Nora menilai tenun Kutai Timur memiliki peluang besar menjadi identitas daerah apabila setiap motif mampu merepresentasikan karakter dan budaya masing-masing wilayah.

“Harapan kami, setiap motif tenun memiliki cerita tentang daerah asalnya. Kaliorang tentu berbeda dengan Kongbeng maupun wilayah lainnya. Nilai budaya itulah yang akan menjadi kekuatan sekaligus pembeda tenun Kutai Timur,” katanya.

Menurut Nora, pengembangan industri tenun tidak bisa berhenti pada pelatihan semata. Pemerintah daerah juga terus menyiapkan dukungan berupa sarana dan prasarana agar para pengrajin dapat terus berproduksi secara berkelanjutan.

Ia optimistis, apabila pembinaan dilakukan secara konsisten, tenun ATBM Kutai Timur akan berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Sementara itu, instruktur pelatihan asal Kabupaten Kediri, Erwin, mengaku mengapresiasi keseriusan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam membina para pengrajin tenun.

Menurutnya, tidak banyak daerah yang memberikan perhatian berkelanjutan terhadap pengembangan tenun tradisional melalui program pelatihan yang terstruktur.

“Saya melihat semangat teman-teman pengrajin di sini luar biasa. Kami tiba di Kutim sore hari, memasang alat sampai dini hari, dan pagi ini langsung memulai pelatihan bersama peserta. Semangat seperti ini menjadi modal besar untuk menghasilkan tenun berkualitas,” ungkapnya.

Ia berharap dukungan pemerintah daerah tersebut mampu memotivasi para pengrajin untuk terus meningkatkan keterampilan, berinovasi dalam menciptakan motif, serta menghasilkan produk tenun yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.(Nad)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *