SANGATTA – Sebanyak 12 dokter peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) resmi mulai menjalankan masa pengabdian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Selama satu tahun ke depan, para dokter muda tersebut akan ditempatkan di empat fasilitas kesehatan untuk mengasah kompetensi klinis sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Program internship merupakan tahapan wajib yang harus dijalani setiap dokter setelah menyelesaikan pendidikan profesi. Melalui program ini, peserta memperoleh pengalaman praktik di bawah supervisi dokter pendamping sebelum mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) secara penuh.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan kehadiran para dokter internship menjadi tambahan tenaga medis yang diharapkan mampu mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan di daerah.
Tahun ini, terdapat perubahan lokasi penempatan dibanding periode sebelumnya. Jika sebelumnya wahana internship berada di RSUD Kudungga, Puskesmas Teluk Lingga, dan Puskesmas Sangatta Selatan, kini Dinas Kesehatan membuka empat wahana baru, yakni RS PKT Sangatta, RS Sangkulirang, Puskesmas Sangatta Utara, dan Puskesmas Kaubun.
“Kalau selama ini Kutai Timur membuka wahana dokter internship hanya di RSUD Kudungga, Puskesmas Teluk Lingga, dan Puskesmas Sangatta Selatan, maka kali ini Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur membuka wahana baru, yaitu di RSUD Sangkulirang, RS PKT, Puskesmas Kaubun, dan Puskesmas Sangatta Utara. Selamat datang para dokter internship, bersama memberikan pelayanan kesehatan untuk Kutai Timur,” ujar Yuwana.
Ia mengingatkan para peserta agar senantiasa mengedepankan keselamatan pasien serta memegang teguh etika profesi dalam setiap pelayanan yang diberikan.
“Utamakan patient safety dan etika. Jagalah nama baik profesi luhur ini. Selalu bekerja sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dan kode etik kedokteran,” tegasnya.
Selain kompetensi klinis, Yuwana juga menekankan pentingnya kemampuan berkomunikasi dengan pasien, keluarga pasien, maupun tenaga kesehatan lainnya. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi salah satu faktor penunjang keberhasilan pelayanan dan proses penyembuhan.
Para dokter internship juga diminta mampu beradaptasi dengan budaya serta kearifan lokal masyarakat di wilayah penugasan. Pendekatan yang menghargai kondisi sosial masyarakat dinilai akan mempermudah pelaksanaan upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.
Di sisi lain, ia mengingatkan para peserta untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama menjalankan masa internship agar tetap dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Tak lupa, Yuwana menitipkan pesan kepada para direktur rumah sakit, kepala puskesmas, serta dokter pendamping untuk memberikan pembinaan dan supervisi yang optimal kepada seluruh peserta.
“Kepada para Direktur Rumah Sakit, Kepala Puskesmas, dan Dokter Pendamping, saya titipkan adik-adik kita ini. Mohon bimbing, arahkan, dan berikan supervisi yang konstruktif agar mereka dapat bertransformasi menjadi dokter-dokter yang mandiri dan andal,” pungkasnya.(IB)
