SANGATTA – Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Rantau Pulung dalam beberapa hari terakhir menyebabkan puluhan hektare lahan persawahan warga di SP2 Desa Margomulyo terendam banjir. Sedikitnya 18 hektare sawah yang baru selesai ditanami padi kini masih digenangi air dan mulai menimbulkan kerugian bagi para petani.
Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasah, mengatakan pemerintah kecamatan telah turun langsung ke lokasi bersama perangkat desa dan petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk meninjau kondisi banjir yang hingga kini belum surut secara maksimal.
“Banjir terjadi di wilayah SP2 dan merendam kurang lebih 18 hektare sawah milik warga yang baru saja memasuki masa tanam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, genangan mulai muncul setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak Jumat lalu. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, air yang biasanya cepat surut kini bertahan lebih lama hingga empat sampai lima hari.
Menurut Vita, persoalan banjir di area persawahan sebenarnya kerap terjadi setiap musim hujan. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, debit air umumnya mulai menurun dalam waktu dua hari sehingga tidak terlalu berdampak pada aktivitas pertanian masyarakat.
“Kondisi kali ini berbeda karena air masih tertahan cukup lama dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan,” katanya.
Dari hasil peninjauan di lapangan, diketahui lambatnya surut air dipicu sedimentasi pada aliran sungai yang menjadi jalur pembuangan air dari area persawahan menuju sungai utama. Selain itu, kerusakan gorong-gorong di jembatan penghubung Desa Margomulyo dan Desa Mektijaya juga memperburuk kondisi aliran air.
Pemerintah kecamatan bersama kelompok tani kini berharap adanya penanganan cepat dari instansi terkait, terutama melalui normalisasi sungai agar banjir serupa tidak terus berulang saat curah hujan tinggi.
“Warga berharap ada normalisasi sungai supaya air di sawah bisa lebih cepat mengalir dan lahan pertanian tidak terus terendam,” jelas Vita.
Tak hanya itu, warga juga meminta peningkatan kapasitas saluran air pada jembatan penghubung antar desa. Gorong-gorong bundar yang digunakan saat ini dinilai terlalu kecil untuk menampung debit air saat hujan deras.
Meski banjir merendam area pertanian cukup luas, genangan tidak sampai masuk ke permukiman warga dalam waktu lama. Air hanya melintas saat hujan deras dan biasanya surut kembali dalam satu hingga dua jam.
Akibat kondisi tersebut, petani diperkirakan mulai mengalami kerugian, terutama pada biaya awal tanam seperti bibit dan tenaga kerja. Namun karena tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan, kerugian yang dialami belum sebesar jika banjir terjadi mendekati masa panen.(IB)
