Kutai Timur – Desainer muda Wijayanti, pemilik brand Wija Modestik, menampilkan karya busana bertema hutan dengan sentuhan dunia fantasi dalam sebuah kegiatan fashion show yang diikuti sejumlah desainer lokal.

Wijayanti yang akrab disapa Wija (21) mengatakan, konsep hutan dipilih karena Kalimantan identik dengan kekayaan alam dan hutannya. Ia juga memadukan unsur budaya dengan imajinasi fantasi agar busana yang dibuat tetap memiliki ciri khas.

“Saya memang suka cerita fantasi dan dongeng. Jadi saya mencoba menggabungkan batik budaya Kutai Timur dengan konsep fantasi supaya bisa menjadi busana yang tetap bisa dipakai sehari-hari,” ujar Wija saat diwawancarai di sela kegiatan fashion show dalam acara Give Away X Krast buka puasa bersama.

Desainer muda tersebut diketahui memiliki brand busana bernama Wija Modestik yang saat ini masih dikelola dari rumahnya di Kabojaya. Selain merancang desain, Wija juga menjahit sendiri setiap busana yang ia buat.

Ketertarikan Wija pada dunia desain busana sudah muncul sejak kecil. Ia mengaku mulai senang membuat pakaian sejak masih duduk di kelas dua sekolah dasar, saat sering membuat pakaian untuk boneka Barbie.

Awalnya, ia tidak bercita-cita menjadi desainer. Namun dorongan orang tua membuatnya mulai menekuni bidang tersebut.

“Dulu cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi pramugari. Tapi karena saya memang suka membuat baju, orang tua menyarankan untuk menekuni dunia desain,” katanya.

Untuk mengembangkan bakatnya, Wija kemudian menempuh pendidikan jurusan Tata Busana di SMK Negeri 1 Majalengka dan lulus pada tahun 2023.

Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan fashion show dan lomba desain busana. Beberapa event yang pernah diikuti di antaranya Wastra Etam serta trunk show di hotel Royal Victoria Sangatta.

Wija juga pernah menorehkan prestasi dengan meraih Juara II dalam ajang Kreativesia di Balikpapan. Selain itu, ia juga beberapa kali memenangkan lomba dalam expo tahunan, baik sebagai desainer maupun model yang mengenakan busananya sendiri.

“Kadang saya sendiri yang menjadi modelnya, tapi ada juga model lain yang membawakan desain saya,” ujarnya.

Menurut Wija, tantangan terbesar dalam dunia desain busana bukan hanya menggambar desain, tetapi merealisasikan ide yang ada di pikiran menjadi karya nyata.

“Kadang desainnya sudah ada di kepala, tapi ketika diwujudkan bahan atau teknik pembuatannya tidak selalu sesuai dengan yang dibayangkan. Di situ tantangannya bagaimana membuat hasil akhirnya tetap sesuai dengan desain,” jelasnya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda yang ingin menjadi desainer agar tidak takut untuk memulai, meskipun merasa tidak terlalu mahir menggambar.

“Banyak orang berpikir desainer harus pandai menggambar. Padahal yang penting adalah bisa mendesain dan merealisasikan karya. Jadi jangan minder atau insecure,” pesannya.

Wija juga berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan dan mendukung pelaku industri kreatif, khususnya desainer lokal di Kutai Timur.

“Harapannya ke depan desainer di Kutai Timur bisa lebih dilirik, karena sebenarnya daerah ini tidak kekurangan orang-orang kreatif,” pungkasnya.(Mei)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *