Kutai Timur — Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengajak masyarakat memperkuat semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam momentum bulan suci Ramadan. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri buka puasa bersama Dewan Pimpinan Kabupaten Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBNMI) Kutai Timur, yang berlangsung di Masjid Miftaqul Jannah, Gang Mushola, Kutai Timur, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Dandim Kutai Timur Letkol Inf. ARH Ragil Setyo Yulianto, Danlanal Kutai Timur Letkol Laut (P) Yahya Junarko, anggota Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia, serta masyarakat sekitar Gang Mushola dan Gang Prima.

Dalam sambutannya, Ardiansyah menyampaikan bahwa Ramadan tidak hanya dikenal sebagai bulan puasa, tetapi juga Syahrul Quran, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa umat Muslim saat ini berada pada pertengahan hingga memasuki 10 hari terakhir Ramadan, yang memiliki keutamaan luar biasa, salah satunya malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

“Di bulan Ramadan ini kita berada pada momen yang luar biasa, menanti amalan yang nilainya melebihi seribu bulan. Mudah-mudahan kegiatan yang kita lakukan hari ini termasuk di dalam keberkahan tersebut,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif pengurus Gerakan Bela Negara yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Menurut Ardiansyah, gerakan bela negara merupakan wadah terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk ikut berkontribusi menjaga dan membangun bangsa.

“Semua warga negara Indonesia wajib mencintai NKRI. Gerakan bela negara ini terbuka untuk siapa saja, bukan hanya pegawai negeri atau militer, tetapi seluruh masyarakat yang ingin berkontribusi menjaga persatuan dan membangun negara,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa bela negara tidak selalu identik dengan perang, melainkan dapat diwujudkan melalui semangat kebersamaan, saling mendukung, serta bersama-sama membangun bangsa.

“Bukan berarti kita ingin berperang, tetapi kita ingin membangun negara ini dengan semangat, kemampuan, kekokohan, dan kebersamaan. Kita tidak saling menghujat, tetapi bersama-sama membangun,” katanya.

Selain itu, Ardiansyah juga menyinggung pentingnya kewaspadaan terhadap dampak negatif teknologi dan media sosial, khususnya bagi anak-anak. Ia menyebut adanya wacana pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai upaya melindungi generasi muda dari potensi konflik sosial dan perpecahan.

“Kita perlu menjaga anak-anak kita dari pengaruh yang dapat memicu perpecahan di masyarakat. Karena banyak persoalan yang muncul akibat penggunaan media sosial yang tidak bijak,” tambahnya.

Melalui kegiatan buka puasa bersama tersebut, Ardiansyah berharap semangat Ramadan dapat menjadi momentum memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan bangsa.(Nad)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *