KUTAI TIMUR — Kerukunan Tionghoa Kutai Timur (KTKT) memastikan tidak menggelar perayaan Imlek bersama pada tahun 2026. Hal tersebut disampaikan Ketua Kerukunan Tionghoa Kutai Timur, Carolina Laoh, saat diwawancarai terkait perayaan Tahun Baru Imlek.
Carolina mengatakan, perayaan Imlek tahun ini lebih difokuskan secara sederhana bersama keluarga di rumah masing-masing.
“Enggak ada sih, paling di rumah masing-masing aja,” ujarnya.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena momentum Imlek tahun ini berdekatan dengan datangnya bulan puasa, sehingga komunitas memilih tidak mengadakan kegiatan bersama seperti pertunjukan barongsai.
“Untuk tahun ini kebetulan enggak ada, karena kan kita juga jelang puasa,” jelasnya.
Meski demikian, pada tahun-tahun sebelumnya, KTKT biasanya menggelar perayaan bersama bukan tepat di hari H Imlek, melainkan saat Cap Go Meh, yakni 15 hari setelah Tahun Baru Imlek.
“Biasanya kita ngerayainnya di Cap Go Meh, artinya setelah Imlek,” katanya.
Ia menjelaskan, sebagian besar warga Tionghoa di Kutai Timur merupakan perantau yang kerap pulang kampung saat Imlek. Karena itu, perayaan hari pertama biasanya dilakukan secara keluarga, sedangkan kegiatan bersama komunitas digelar setelahnya.
Saat ini, jumlah anggota Kerukunan Tionghoa Kutai Timur tercatat sekitar 92 orang, dengan mayoritas berdomisili di wilayah sekitar pusat kota. Sementara itu, jumlah anggota di kecamatan-kecamatan terbilang tidak terlalu banyak. Adapun sekretariat komunitas berada di Thomas Square.
Dalam kesempatan tersebut, Carolina juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait Imlek. Ia menegaskan bahwa Imlek bukanlah perayaan agama tertentu, melainkan perayaan Tahun Baru berdasarkan kalender Cina.
“Imlek itu bukan perayaan keagamaan. Itu perayaan tahun baru nasionalnya Cina,” tegasnya.
Menurutnya, seluruh warga Tionghoa dengan latar belakang agama apa pun dapat merayakan Imlek. Carolina sendiri mengaku merupakan keturunan Tionghoa yang beragama Islam.
“Saya Cina, tapi saya muslim,” katanya.
Ia menambahkan, menjelang Imlek biasanya masyarakat melakukan tradisi bersih-bersih rumah sebagai simbol menyambut tahun baru dengan suasana yang bersih dan penuh harapan. Bagi penganut Buddha dan Konghucu, tradisi tersebut juga termasuk membersihkan altar serta perlengkapan sembahyang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Sementara itu, tradisi pembagian angpao dimaknai sebagai bentuk ucapan syukur dan berbagi rezeki kepada anak-anak maupun mereka yang belum menikah.
“Itu ucapan syukur ya, berbagi rezeki,” ujarnya.
Tahun 2026 sendiri merupakan Tahun Shio Kuda Api, yang dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan energi yang melimpah, semangat yang menyala, serta keberanian dalam menghadapi tantangan. Elemen api dipercaya membawa aura kemakmuran, kekayaan, dan keberuntungan bagi mereka yang mampu bekerja keras dan pantang menyerah.
Di akhir wawancara, Carolina berharap semangat kebersamaan dan toleransi yang selama ini terjalin di Kutai Timur dapat terus terjaga.
“Saya harap kerukunan yang sudah terjaga di Kutai Timur ini semakin terjaga lagi, tidak ada gesekan-gesekan apa pun,” tutupnya.(Nad)
