Kutai Timur — Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cahaya Mentari resmi membuka program pembelajaran pengelolaan dan daur ulang sampah pada tahun ajaran 2026–2027. Program ini dilaksanakan di PKBM Cahaya Mentari yang berlokasi di Jalan Sawito, Kabupaten Kutai Timur, tepatnya di Perumahan Griya Bukit Pelangi Kanal 3, Sangatta.

Kepala PKBM Cahaya Mentari, Ibu Dadang Darya, menjelaskan bahwa konsep pembelajaran di PKBM saat ini menggunakan sistem kontrak belajar dengan metode kombinasi tatap muka (offline), pemberian materi, penugasan portofolio, hingga penulisan makalah.

“Konsep belajar di PKBM itu kita pakai sistem kontrak belajar. Ada offline, temu muka, pemberian materi, kemudian penugasan portofolio dan makalah,” ujarnya.

Menurutnya, tujuan utama pembelajaran ini adalah membekali siswa agar lebih produktif, terutama bagi warga belajar yang merupakan siswa putus sekolah. Dengan adanya program tersebut, siswa diharapkan mampu memiliki keterampilan dan pilihan untuk bekerja mandiri.

“Tujuannya adalah membekali siswa kita untuk bisa produktif. Karena kita kan siswa putus sekolah. Pilihannya ada yang bekerja, ada juga yang usaha sendiri,” lanjutnya.

Ia menyebut, pembelajaran pengelolaan dan daur ulang sampah ini lebih diarahkan untuk memancing siswa agar memiliki semangat wirausaha.

“Nah, adanya pembelajaran seperti ini lebih kepada memancing mereka sebagai pengusaha atau usaha mandiri, tidak usah bekerja di tempat lain,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, PKBM Cahaya Mentari juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah dinas terkait. Dinas Pendidikan menjadi naungan utama lembaga tersebut, sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur menjadi mitra strategis. PKBM juga telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan DLH, khususnya dalam dukungan materi dan pemateri untuk program pembelajaran.

“DLH itu mitra kita. Kita ada MoU dengan DLH Kabupaten, mereka men-support materi-materi apabila ada keterkaitannya seperti pembelajaran pengolahan dan daur ulang sampah,” jelasnya.

Program daur ulang sampah ini mencakup pengelolaan sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik seperti limbah rumah tangga dan sisa sayur-mayur dari pasar, PKBM berencana memulai pelatihan pada bulan Ramadan mendatang dengan menyiapkan komposter.

“Nanti pelaksanaannya di bulan puasa, kita akan menyiapkan komposter. Sampah organiknya dari pasar, limbah rumah tangga, kemudian materinya diberikan oleh DLH,” katanya.

Sistem pemilahan sampah juga menjadi bagian penting dalam program. Para siswa akan dilatih memilah sampah organik sebelum dimasukkan ke komposter. Setelah pelatihan, PKBM berencana bekerja sama dengan RT untuk mengedukasi masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.

“Nanti ke depannya, setelah selesai pelatihan siswa kita akan kita kerja samakan dengan RT-RT mengajari masyarakat untuk memilah sampah organiknya terlebih dahulu,” jelasnya.

Selain berorientasi lingkungan, program ini juga memiliki target ekonomi. PKBM menargetkan adanya nilai jual dari produk hasil daur ulang. Sampah plastik misalnya akan diolah menjadi tas, sedangkan komposter dan pupuk organik yang dihasilkan dari sampah rumah tangga juga direncanakan menjadi produk usaha.

“Rencananya karena ini kita membantu pemerintah meringankan beban TPA. Ada juga menghasilkan cuan. Kemasan plastik ini bisa jadi tas yang kita jual. Sampah organik dari komposter bisa jadi pupuk organik, termasuk komposternya juga bisa kita produksi,” tuturnya.

Ia berharap program ini dapat memberi dampak langsung bagi siswa PKBM, terutama dalam bentuk pendapatan tambahan dari hasil penjualan produk daur ulang.

“Harapannya, hasilnya kembali kepada siswa yang kita ajari berupa pendapatan,” ujarnya.

Terkait kendala, sejauh ini program belum menemui hambatan berarti. Tantangan utamanya hanya pada kepedulian siswa untuk konsisten hadir dalam proses belajar.

“Kendalanya sementara ini belum ada. Hanya diperlukan kepedulian siswanya untuk hadir belajar,” ungkapnya.

Di akhir wawancara, Ibu Dadang Darya berharap masyarakat semakin sadar pentingnya mengurangi sampah. Menurutnya, saat ini persoalan sampah bukan hanya soal membuang pada tempatnya, tetapi juga memilah sesuai jenis dan pemanfaatannya.

“Sekarang bukan lagi membuang sampah pada tempatnya, tapi memilah sampah sesuai pemanfaatannya, seperti organik dan non-organik. Itu yang akan kita sosialisasikan,” tutupnya.(Mei)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *