KUTAI TIMUR – Bagi para pelajar di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas bukanlah perkara sederhana. Ketiadaan SMA di desa mereka memaksa para lulusan SMP menempuh perjalanan jauh ke Kota Sangatta setiap hari, dengan jarak yang bisa mencapai 13 hingga 20 kilometer.

Perjalanan tersebut bukan sekadar soal angka. Akses jalan yang belum sepenuhnya memadai membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dan melelahkan. Bagi siswa yang tinggal di wilayah pesisir Sangkima, jarak menuju sekolah bahkan bisa menyentuh 20 kilometer.

Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, menjelaskan bahwa kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap angkatan lulusan SMP tak memiliki alternatif selain bersekolah di kota.

“Kalau dari pusat desa ke Sangatta sekitar 13 kilometer. Anak-anak dari pesisir bisa sampai 20 kilometer,” ujarnya.

Menurut Alwi, jarak tersebut sebetulnya masih dapat dijangkau apabila didukung infrastruktur jalan yang layak. Namun hingga kini, pembangunan Ring Road yang diharapkan menjadi jalur utama penghubung belum rampung sepenuhnya.

Ia menyebut, jalan tersebut baru terbuka sekitar sembilan kilometer dan belum dilanjutkan lagi. Situasi ini membuat konektivitas antara desa dan kota belum optimal.

Persoalan kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) kerap disebut sebagai kendala utama pembangunan. Meski demikian, Alwi menilai masih ada peluang solusi melalui kerja sama yang tidak menyentuh zona inti konservasi. Ia menegaskan bahwa selama mekanisme perjanjian kerja sama (PKS) ditempuh sesuai aturan, pembangunan tetap memungkinkan.

Terhambatnya akses jalan berdampak langsung pada keberlangsungan pendidikan anak-anak desa. Tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih tinggal di indekos di Sangatta agar lebih dekat dengan sekolah. Namun, pilihan tersebut tidak mudah bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Sebagian orang tua terpaksa menyerah karena tidak sanggup membiayai kebutuhan kos dan transportasi. Akibatnya, ada siswa yang memutuskan berhenti sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah atas.

Selain beban biaya, jarak yang memisahkan anak dan orang tua juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Minimnya pengawasan keluarga membuat sebagian siswa rentan terpengaruh lingkungan pergaulan di kota.

Pemerintah kecamatan bersama pemerintah daerah saat ini disebut tengah membahas kemungkinan kolaborasi lintas sektor guna membuka kembali akses jalan yang terputus. Harapannya, pembangunan infrastruktur dapat segera terealisasi demi pemerataan layanan dasar, khususnya pendidikan.

Bagi masyarakat Sangkima, tersambungnya Ring Road bukan semata persoalan mobilitas. Lebih dari itu, jalan tersebut menjadi simbol harapan agar generasi muda di desa memiliki kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik.(IB)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *