SANGATTA – Keberadaan seekor orang utan yang sempat terlihat beraktivitas di sekitar jalan poros Kutai Timur akhirnya ditangani Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Satwa dilindungi tersebut dievakuasi pada Rabu (28/1) setelah beberapa hari dilaporkan berada di luar kawasan hutan.
Orang utan itu sebelumnya terekam berada di sekitar lokasi pembuangan sampah dan terlihat mengais sisa makanan di pinggir jalan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan keselamatan satwa sekaligus pengguna jalan, sehingga dilakukan penelusuran intensif oleh petugas.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa proses pencarian dilakukan sejak pagi hari. Tim menyusuri sejumlah titik di sepanjang Jalan Poros Perdau–Muara Wahau hingga kawasan underpass PT PAMA sebelum akhirnya menemukan satwa tersebut sekitar pukul 09.30 WITA.
Hasil pemeriksaan menunjukkan orang utan berada dalam kondisi sehat. Berdasarkan pengamatan fisik, usianya diperkirakan berkisar 18 hingga 20 tahun dan termasuk kategori jantan dewasa.
“Cukup dewasa dan dalam kondisi sehat,” ujar Ari saat dikonfirmasi.
Evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi karena orang utan tersebut mulai menunjukkan aktivitas di luar habitat alaminya. Keberadaan satwa di pinggir jalan, terutama saat mencari makan di sekitar sampah, dinilai berpotensi memicu risiko lanjutan.
Proses penyelamatan melibatkan tim BKSDA Kaltim bersama sejumlah mitra, di antaranya Conservation Action Network (CAN), Conservation Orangutan Protection (COP), serta dukungan dari perusahaan tambang di sekitar lokasi.
Setelah dievakuasi, orang utan tersebut direncanakan untuk segera dilepasliarkan. Ari menyebutkan, kondisi kesehatan satwa dan ketersediaan kawasan jelajah menjadi pertimbangan utama sehingga pelepasliaran dapat dilakukan pada hari yang sama.
“Rencananya akan kami lepasliarkan hari ini juga ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di wilayah Busang,” jelasnya.
Ari juga menyinggung meningkatnya laporan kemunculan orang utan di area pemukiman dan sekitar jalan dalam beberapa waktu terakhir. Untuk kasus di pemukiman, ia menyebut kondisi umumnya masih terkendali karena satwa hanya mengambil buah-buahan milik warga.
“Informasi yang kami terima, masyarakat tidak memberikan makanan. Orangutan hanya mengambil buah yang ada dan warga juga memahami itu bagian dari habitatnya,” katanya.
Namun, menurutnya, situasi berbeda ketika orang utan mulai mencari makan di pinggir jalan dan area sampah. Kondisi tersebut dinilai sebagai indikasi awal perubahan perilaku yang perlu segera direspons.
“Menurut kami mulai ada perubahan perilaku. Biasanya mencari makan dalam hutan, sekarang mereka mencari makan di pinggir jalan. Ini tanda awal mungkin harus diselamatkan supaya keliarannya masih ada,” tegasnya.
Ia menambahkan, orang utan jantan dewasa memang lebih sering ditemukan turun ke darat karena memiliki sifat menjelajah wilayah yang luas. Sementara itu, individu betina cenderung tetap beraktivitas di tajuk pohon.
“Paling banyak yang jantan kita selamatkan, terutama jantan dewasa. Karena mereka memang berpetualang,” tutupnya.(Ad*)
