SANGATTA – Ponton penyeberangan orang yang menghubungkan Jalan Gajah Mada, Sangatta Lama, menuju Pasar Sangatta Lama masih menjadi alternatif transportasi bagi warga, terutama pada pagi hari. Meski keberadaan jembatan sudah tersedia, sebagian masyarakat tetap memilih ponton karena jarak tempuh yang lebih dekat dan praktis.

Muhammad Ainul, pemilik ponton penyeberangan tersebut, mengatakan ponton hanya beroperasi sekali dalam sehari, mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WITA. Operasional difokuskan pada pagi hari karena menyesuaikan aktivitas warga yang hendak ke pasar.

“Kerja dari jam enam pagi sampai jam sebelas siang saja. Setelah itu tutup, tidak ada operasi sore,” ujar Ainul saat ditemui di lokasi penyeberangan.

Menurut Ainul, pada hari biasa omset ponton berkisar Rp200 ribu per hari. Namun, pada akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, pendapatan dapat meningkat hingga Rp400 ribu sampai Rp500 ribu lebih, seiring meningkatnya jumlah penumpang.

Dalam satu hari, ponton ini rata-rata melayani sekitar 50 orang. Tarif penyeberangan dipatok Rp2.000 sekali jalan. Warga yang pulang-pergi dikenakan Rp4.000 per orang.

“Kalau dihitung, kurang lebih segitu hasilnya per hari,” jelasnya.

Ponton ini banyak digunakan oleh warga yang hendak menuju Pasar Sangatta Lama maupun aktivitas lainnya di seberang sungai. Selain mempersingkat jarak, pengalaman menyeberang menggunakan ponton juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Banyak yang senang karena belum pernah naik ponton. Jadi ada pengalaman baru buat mereka,” katanya.

Meski demikian, Ainul mengakui operasional ponton sangat bergantung pada kondisi alam. Banjir dan arus sungai yang deras menjadi kendala utama. Jika debit air meningkat hingga menutup akses atau membahayakan penumpang, ponton tidak dioperasikan.

“Kalau banjir besar dan arus deras, biasanya kami tutup karena orang juga takut menyeberang,” ungkapnya.

Terkait keamanan, Ainul menyebutkan bahwa di kawasan sungai tersebut memang terdapat buaya. Namun hingga kini belum pernah terjadi insiden selama warga mematuhi imbauan untuk tidak berenang.

“Buaya ada, tapi selama ini aman. Yang penting jangan berenang di sungai,” ujarnya.

Ainul menambahkan, dirinya tidak setiap hari menjaga ponton karena juga bekerja di sektor pertambangan. Pengelolaan ponton dilakukan secara bergantian oleh pekerja harian sebagai sumber penghasilan tambahan.

“Ini kerja lepasan saja, sekadar cari uang harian,” tuturnya.

Keberadaan ponton penyeberangan dari Jalan Gajah Mada menuju Pasar Sangatta Lama ini menunjukkan bahwa transportasi sungai masih memiliki peran penting sebagai alternatif mobilitas warga, khususnya di jam-jam sibuk pagi hari di kawasan Sangatta Lama.(Mei)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *