Program Bumi Percontohan resmi digulirkan sebagai upaya memperkuat pengelolaan sampah dari tingkat akar rumput di Kutai Timur. Gerakan ini lahir dari hasil riset selama satu tahun yang menunjukkan tingginya produksi sampah rumah tangga dan besarnya kontribusi sampah terhadap krisis iklim.
Inisiator program, Rahmad Taufiqih Pratama Putra, menjelaskan bahwa Bumi Percontohan dirancang agar masyarakat belajar mengelola sampah langsung dari tingkat RT. Program ini berjalan selama satu bulan dan akan diperluas ke desa-desa lainnya di Kutai Timur. “Ketika pengelolaan sampah dilakukan dari rumah tangga, serapan sampah ke TPST itu akan jauh lebih sedikit,” ujarnya.
Program ini mengusung tema “Sinergi Bersama untuk Bumi Hijau Berkelanjutan”. Selain pengurangan sampah, konsep ini juga membangun ekonomi sirkular melalui budidaya yang terintegrasi. Di kebun percontohan, warga diajarkan budidaya maggot, ayam petelur, lele, hingga sayur-mayur. Semua dihubungkan dalam satu siklus produksi yang efisien.
Maggot yang dihasilkan digunakan sebagai pakan ayam dan lele, sehingga biaya operasional dapat ditekan tanpa mengurangi hasil produksi. Telur, ikan, dan sayur kemudian dapat dijual kembali. Keuntungan dari penjualan dipakai untuk membeli bibit baru, sementara sisanya menjadi pendapatan untuk merawat kebun. Konsep ini disiapkan agar kebun percontohan tidak berhenti setelah seremoni, seperti kasus banyak taman penghijauan sebelumnya.
Rahmad mengakui tantangan terbesar berada pada ketersediaan lahan di kawasan Sangatta. Namun pihaknya berhasil mendapatkan izin penggunaan tanah selama dua tahun. Jika program ini berhasil, kebun yang lebih besar akan dikembangkan di Simono melalui tanah hibah masyarakat.
Motivasi utama kegiatan ini adalah kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan dan potensi bencana. “Kami tidak ingin daerah kami rusak atau tenggelam. Kami ingin mulai menjaga lingkungan dari diri sendiri dan memulainya dari pemuda,” tegas Rahmad. Ia menyampaikan bahwa isu lingkungan dan pascatambang kini menjadi perhatian bersama generasi muda.
Program ini mendapat dukungan kuat dari sponsor nasional, termasuk dari Yayasan Partisipasi Muda melalui program Youth Climate Impact Fellowship. Perusahaan seperti Kaltim Prima Coal juga memberikan dukungan karena memiliki visi serupa dalam gerakan lingkungan. Pemerintah daerah turut merespons cepat, termasuk Bupati Kutai Timur yang disebut sangat antusias terhadap program ini.
Ke depan, Rahmad berharap Bumi Percontohan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lingkungan dan memperkuat peran Bumdes, khususnya di Sangatta Utara. Ia menilai konsep ini bisa menjadi sumber lapangan kerja baru dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada sektor tambang.(Nad)
