Kutai Timur, – Kebijakan efisiensi anggaran daerah tidak menghambat Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur untuk terus menggulirkan inovasi. Diskominfo Kutim menyiasati keterbatasan dana dengan memanfaatkan teknologi open source serta subdomain gratis milik pemerintah untuk menyediakan fasilitas pelatihan dan edukasi warga secara daring.
Skema ini diterapkan melalui platform akademik atau Learning Management System (LMS) yang terintegrasi di dalam portal Terpadu Digital Kutim. Lewat fitur tersebut, modul bimbingan teknis (bimtek) yang semula digelar secara tatap muka (offline) kini dialihkan secara digital sehingga bisa diakses masyarakat secara mandiri tanpa pembiayaan besar.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronny Bonar, menegaskan bahwa penyesuaian anggaran daerah harus disikapi sebagai peluang untuk menciptakan terobosan pelayanan publik yang efisien dan tepat guna.
”Saya mencoba untuk bagaimana kita memanfaatkan sebuah momentum bahwa yang namanya efisiensi itu bukan menghambat kita untuk melakukan sebuah perubahan. Nah, itu kita coba pelan-pelan,” tegas Ronny Bonar belum lama ini.
Ia memaparkan, pelaksanaan bimtek konvensional secara tatap muka membutuhkan alokasi dana yang tidak sedikit sehingga jumlah pesertanya kerap terbatas. Kehadiran modul digital pada fitur LMS menjadi solusi agar warga yang belum tertampung dalam bimtek offline tetap bisa mendapatkan materi pembelajaran secara online.
”Dalam kondisi efisiensi ini kan bimtek-bimtek itu juga membutuhkan biaya. Nah, dengan adanya aplikasi tersebut ya sudah membantu mengurangi pembiayaan tersebut karena dia bisa bicara secara online atau beraktivitas secara online, tidak harus langsung bertemu,” jelas Ronny Bonar.
Melalui pemanfaatan platform bebas biaya ini, Diskominfo Kutim terbukti mampu menekan pengeluaran belanja daerah tanpa mengabaikan pencapaian target edukasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. (adv/fan).

