Kutai Timur, – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur menegaskan pentingnya verifikasi atau cross check lapangan sebelum suatu titik panas (hotspot) yang terpantau sistem pemantauan dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data hotspot yang terekam secara otomatis dinilai belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan.
‎
‎Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Kutim, Muhammad Naim, menjelaskan data titik hotspot tidak dapat langsung dijadikan acuan jumlah kejadian karhutla tanpa peninjauan langsung ke lokasi.
‎
‎”Kalau titik hotspot ini kan kita tidak bisa prediksi. Karena tidak semua titik hotspot itu berpotensi karhutla,” ujarnya baru baru ini di Kantor BPBD Kutim.
‎
‎Ia mencontohkan sejumlah kondisi yang kerap terdeteksi sebagai titik hotspot namun tidak berkaitan dengan karhutla. Salah satunya atap seng baru pada bangunan rumah warga yang terpapar sinar matahari secara langsung.
‎
‎”Ada perumahan, ada masyarakat yang membangun rumah, sengnya itu kan baru. Nah, itu kalau terpapar matahari yang begitu panas, ini kan menimbulkan hotspot. Tapi tidak berpotensi terjadinya karhutla,” katanya.
‎
‎Selain itu, Naim menyebut genangan air di kolam maupun tempat penampungan, serta tumpukan batu bara yang terpapar suhu panas matahari, juga kerap terekam sebagai titik hotspot oleh sistem pemantauan meski secara faktual tidak berpotensi menimbulkan karhutla.
‎
‎Naim menegaskan pihaknya tidak bisa memastikan jumlah titik hotspot yang benar-benar berpotensi menjadi karhutla tanpa peninjauan langsung ke lokasi.
‎
‎”Harus ada peninjauan, harus ada cross check lapangan untuk pastinya terkait titik hotspot,” jelasnya.
‎
‎Ia berharap masyarakat dapat lebih memahami perbedaan antara titik hotspot dan kejadian karhutla yang sesungguhnya, sehingga informasi yang beredar tetap akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Naim memastikan tim BPBD bersama pihak terkait akan terus melakukan pemantauan dan verifikasi lapangan secara berkala guna memastikan data hotspot yang dipublikasikan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan, terutama di tengah musim kemarau panjang yang masih berlangsung di wilayah Kutai Timur. (adv/fan).
‎
‎

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *