SANGATTA– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara terus memperkuat budaya literasi keuangan di kalangan generasi muda melalui Financial Literacy Festival Kutai Timur bertema “Generasi Cerdas Keuangan, Menuju Masa Depan Cerah” yang digelar di SMP Negeri 1 Sangatta Utara, Rabu (29/07/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 1.392 siswa kelas VII, VIII, dan IX. Hadir secara langsung Angga Heryadi, Manajer Madya Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PJUK), Edukasi dan Perlindungan Konsumen (PEPK) OJK Kalimantan Timur-Kalimantan Utara, serta Muhammad Alfarizi Edytia, Duta Literasi Keuangan OJK Kalimantan Timur-Kalimantan Utara 2026.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMP Negeri 1 Sangatta Utara, Eko Sunggari, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai pengelolaan keuangan merupakan pengetahuan yang masih jarang diperoleh siswa di lingkungan sekolah.
“Selama ini anak-anak lebih banyak mendapatkan materi tentang sains maupun teknologi. Kegiatan seperti ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana memahami dan mengelola keuangan dengan baik. Tentu sangat bermanfaat bagi kami, terutama bagi anak-anak,” ujarnya.
Eko menilai, literasi keuangan perlu dikenalkan sejak usia sekolah agar peserta didik memiliki kemampuan mengambil keputusan finansial secara bijak di masa depan. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala, baik setiap enam bulan maupun setiap tahun, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih optimal.
Menurutnya, pelaksanaan berikutnya juga dapat dikembangkan dalam skala yang lebih kecil dengan menghadirkan edukasi langsung ke setiap kelas agar penyampaian materi lebih efektif dan interaktif.
“Kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan di sekolah kami. Jumlah peserta sangat banyak sehingga mungkin ada siswa yang kurang fokus. Ke depan bisa dibuat dalam kelompok kelas agar penyampaian materi lebih maksimal,” katanya.
Tak hanya menyasar siswa, pihak sekolah juga membuka peluang untuk melibatkan orang tua dalam kegiatan edukasi keuangan berikutnya. Sebab, pengelolaan keuangan anak tidak terlepas dari peran keluarga, terutama dalam membimbing penggunaan uang saku sehari-hari.
“Kalau memang diperlukan, kami siap melibatkan orang tua. Pengelolaan keuangan anak tentu berkaitan dengan keluarga. Orang tua juga perlu mendapatkan pemahaman agar dapat mendampingi anak mengatur uang sakunya dengan baik,” jelas Eko.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital. Menurutnya, masih banyak pelajar yang belum mampu mengelola keuangan secara bijak karena mudah tergoda oleh berbagai bentuk konsumsi digital, mulai dari pembelian dalam permainan daring hingga potensi paparan aktivitas perjudian online.
“Kami berharap anak-anak mampu mengelola keuangan mereka dengan baik sehingga tidak terjebak pada hal-hal yang tidak bermanfaat, melainkan memanfaatkan uang untuk kebutuhan yang lebih positif dan berguna bagi masa depan,” ungkapnya.
Sebagai indikator keberhasilan kegiatan, sekolah berharap para siswa mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengatur uang saku secara lebih bertanggung jawab.
Selain itu, Eko menegaskan kolaborasi antara dunia pendidikan dan OJK sangat penting dalam membentuk generasi yang memiliki kecakapan finansial. Menurutnya, meskipun materi mengenai keuangan telah dikenalkan dalam beberapa mata pelajaran seperti IPS dan Matematika, kehadiran OJK memberikan penguatan melalui edukasi yang lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Materi di sekolah memang sudah ada, tetapi sosialisasi dari OJK sangat membantu dalam memperkuat kompetensi yang harus dimiliki peserta didik. Dengan kolaborasi seperti ini, anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata,” tutupnya.(Nad)
