MUARA WAHAU – Gemuruh budaya dan semangat kebersamaan kembali terasa dalam puncak perayaan Lom Plai suku Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Rabu (22/4/2026). Ritual Embob Jengea yang menjadi inti pesta panen berlangsung khidmat sekaligus meriah, menyatukan tradisi leluhur dengan geliat pariwisata yang kian berkembang.
Namun di balik perayaan tersebut, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, mengingatkan adanya tantangan besar yang tengah dihadapi daerah, khususnya terkait ketahanan pangan. Ia menilai, makna Lom Plai sebagai bentuk syukur atas panen padi kini mulai berjarak dengan kondisi nyata di lapangan.

Hamparan sawah yang dahulu menjadi simbol utama perayaan, kini semakin tergantikan oleh perkebunan kelapa sawit. Pergeseran ini, menurut Mahyunadi, menjadi salah satu kendala utama dalam mendorong kemandirian pangan di wilayah Muara Wahau dan sekitarnya.

Padahal, peluang untuk mengembangkan pertanian masih terbuka lebar. Dukungan dari pemerintah pusat melalui program cetak sawah dan bantuan sarana pertanian telah tersedia. Sayangnya, berbagai faktor seperti status lahan hingga preferensi ekonomi masyarakat membuat realisasi program tersebut belum optimal.

Pemerintah daerah pun terus berupaya mencari solusi, termasuk mendorong peran aktif pemerintah desa dan kecamatan dalam mengedukasi serta meyakinkan masyarakat agar kembali melirik sektor pertanian pangan.

Di sisi lain, komitmen menjaga kelestarian adat tetap menjadi prioritas. Mahyunadi menegaskan bahwa nilai-nilai sakral dalam Lom Plai tidak boleh berubah. Pemerintah sepakat bahwa inti ritual harus tetap dijaga sesuai tradisi, sementara inovasi dapat dikembangkan pada sisi pertunjukan dan atraksi budaya.
Berbagai kegiatan tradisional seperti lomba menyumpit, gasing, hingga balap perahu turut memeriahkan acara. Atraksi khas seperti Seksiang dan tarian di atas rakit menjadi daya tarik unik yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dayak Wehea.

Sejak masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), Lom Plai semakin dikenal luas. Meski demikian, pengembangan sektor pariwisata di wilayah ini masih dihadapkan pada persoalan infrastruktur, terutama akses menuju lokasi yang membutuhkan waktu perjalanan cukup panjang.

Rencana pengembangan Bandara Uyang Lahai yang diharapkan dapat mempercepat akses wisatawan juga masih menghadapi kendala akibat keterbatasan anggaran. Pemerintah daerah menyatakan akan terus mengupayakan agar rencana tersebut tetap dapat direalisasikan.

Mahyunadi juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan budaya dan pariwisata. Ia mengajak seluruh pihak untuk bersinergi, sehingga pelestarian tradisi tidak hanya bergantung pada satu pihak saja.

“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi bagian dari identitas dan masa depan daerah. Budaya, ekonomi, dan pariwisata harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Melalui Lom Plai, Kutai Timur tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga dihadapkan pada upaya menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata secara berkelanjutan.(Nad)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *