Sangatta — Nora Suratman, perancang busana asal Kutai Timur, telah menekuni usaha fashion sejak 2007. Usaha yang dijalankannya di Sangatta bermula dari kegiatan menjahit secara mandiri, sebelum berkembang dengan melibatkan tenaga kerja tambahan seiring meningkatnya permintaan.
“Awalnya kita menjahit sendiri. Kemudian, karena orderan makin banyak, kita mulai menambah karyawan untuk membantu,” ujar Nora saat diwawancarai.
Ketertarikan Nora pada dunia fashion tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Ia menempuh pendidikan Tata Busana sejak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kemudian melanjutkan pendalaman desain fashion di Arfa Studio Surabaya yang kini dikenal sebagai Arfa School.
“Dari sekolah memang jurusannya tata busana. Setelah lulus SMK, saya lanjut sekolah desain fashion di Arfa Studio sampai tingkat mahir dan mendapatkan sertifikat nasional,” jelasnya.
Dalam berkarya, Nora banyak mengembangkan busana muslim dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tema dan kebutuhan pasar. Ia juga kerap mengangkat unsur lokal dalam desainnya, salah satunya melalui penggunaan batik Wakaroros.
“Kalau kita ikut fashion show, kita tentukan dulu mau membawakan tema apa. Misalnya batik Wakaroros, nanti kita masukkan ke desain, bisa berupa dress atau outer dengan siluet yang berbeda,” katanya.
Terkait keikutsertaan dalam berbagai ajang fashion, Nora menyebut tema besar umumnya ditentukan oleh penyelenggara. Namun, desainer tetap memiliki ruang untuk menampilkan karakter daerah dan konsep masing-masing.
“Biasanya event sudah ada judulnya, kita mengikuti. Tapi tetap kita membawa ciri daerah. Kalau sudah tingkat nasional, konsepnya lebih bebas, mau tradisional atau kontemporer,” ujarnya.
Nora juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi pada awal merintis usaha, terutama keterbatasan bahan baku di Kutai Timur. Kondisi tersebut kini mulai teratasi seiring berkembangnya akses distribusi dan layanan daring.
“Dulu bahan itu sangat terbatas. Sekarang alhamdulillah sudah banyak toko kain, bahkan tinggal telepon atau pesan online, mereka sudah mau melayani,” tuturnya.
Menurut Nora, pencapaian terbesar dalam perjalanan usahanya adalah kepercayaan yang diberikan oleh berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah dan pelanggan lama.
“Bagi saya, pencapaian itu ketika kita dipercaya mengerjakan seragam-seragam dinas dan pelanggan lama masih terus kembali sampai sekarang,” katanya.
Pada 2025, Nora tercatat mengikuti ajang Indonesia Fashion Week melalui kerja sama dengan Dekranasda Kutai Timur. Ia menilai partisipasi tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap pelaku fashion dari daerah.
“Ini seperti pengakuan bahwa kita juga bisa diakui sebagai fashion designer meskipun berada di daerah, jauh dari ibu kota,” ujarnya.
Dalam operasional usahanya, jumlah tenaga kerja yang terlibat bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan volume pekerjaan.
“Kalau pekerjaan sedang banyak, bisa sampai 20 orang. Tapi itu tergantung order saat itu,” jelasnya.
Ke depan, Nora bersama sejumlah perancang busana di Kalimantan Timur berencana memperkuat kolaborasi antar-desainer, termasuk wacana penyelenggaraan peragaan busana di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami berharap ke depan industri fashion di Kalimantan Timur bisa berkembang, salah satunya dengan membangun jejaring dan kolaborasi antar-desainer,” katanya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda yang ingin terjun ke industri fashion agar terus belajar dan tidak mudah menyerah.
“Jangan putus asa, terus dalami ilmu, dan jangan malu untuk bertanya atau bersilaturahmi,” tutup Nora.(Mei)
