SANGATTA – Kepala Suku Ulu Darat Basab, Serina, mendatangi Kantor DPRD Kutai Timur untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat Basab,khususnya terkait pelestarian budaya, pendidikan, serta pembangunan dasar di wilayah pedalaman.
Serina yang juga mendapat mandat adat dari Kesultanan Kutai untuk mendampingi Suku Basab mengatakan, kedatangan mereka ke DPRD Kutai Timur bertujuan meminta dukungan dan perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan adat dan budaya Basap yang selama ini mulai tergerus.
“Kami menyampaikan apa yang menjadi kekurangan kami, terutama di bidang kebudayaan. Kami ingin membangun kembali adat dan budaya kami karena selama ini sudah tidak berjalan,” ujar Serina.
Ia menjelaskan, kondisi kampung-kampung masyarakat Basab di wilayah Ulu Darat masih sangat tertinggal. Keterbatasan fasilitas pendidikan menjadi salah satu persoalan utama. Bahkan, banyak anak-anak yang tidak menamatkan pendidikan dasar.
“Kampung kami masih kekurangan sekolah dan sarana pendidikan lainnya. Dari banyak anak, hanya sebagian kecil yang bisa lulus sekolah dasar,” ungkapnya.
Serina mengaku sangat bersyukur dapat bertemu langsung dengan anggota DPRD Kutai Timur. Menurutnya, pertemuan tersebut merupakan yang pertama kali bagi masyarakat adat Basab untuk menyampaikan aspirasi secara langsung ke lembaga legislatif.
“Baru kali ini kami datang dan bertemu langsung dengan DPR. Kami sangat senang dan berharap ada perhatian yang nyata ke depan,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, disampaikan pula kondisi masyarakat Basab yang tersebar di enam kecamatan di Kutai Timur, di antaranya Kalioran, Karangan, Kaubun, Sandaran, dan wilayah sekitarnya. Sebagian besar wilayah tersebut berada di sekitar kawasan perkebunan dan pertambangan, namun masyarakat adat dinilai belum sepenuhnya merasakan dampak pembangunan.
Selain pendidikan, Serina juga menyoroti minimnya infrastruktur pemerintah, seperti jalan dan akses listrik. Saat ini, sebagian masyarakat masih bergantung pada fasilitas milik perusahaan, sementara pembangunan jalan pemerintah daerah maupun provinsi belum menjangkau wilayah mereka secara optimal.
“Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan pembangunan di wilayah kami, mulai dari pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga infrastruktur jalan dan listrik,” tegasnya.
Ia menambahkan, Suku Basab memiliki peran penting dalam adat dan sejarah Kesultanan Kutai, termasuk dalam pelaksanaan ritual adat Erau. Namun ironisnya, kehidupan masyarakat Basab saat ini justru masih jauh tertinggal.
Melalui pertemuan dengan DPRD Kutai Timur tersebut, Serina berharap aspirasi masyarakat adat Basab dapat ditindaklanjuti secara konkret oleh pemerintah daerah dan instansi terkait, demi masa depan generasi muda Basab yang lebih baik dan berdaya saing menuju Indonesia Emas.(IB)
