Dunia fashion di Kalimantan Timur terus menunjukkan perkembangan seiring tumbuhnya komunitas kreatif yang menjadi ruang kolaborasi para pelaku industri. Salah satunya diinisiasi oleh Anas Maghfur, Owner Aemtobe sekaligus Founder Fascreeya Indonesia, sebuah social foundation yang bergerak di bidang fashion dan kriya dengan fokus pengembangan potensi lokal Kalimantan Timur.
Melalui Fascreeya Indonesia, Anas merangkul pengrajin, desainer, hingga calon desainer yang masih menempuh pendidikan maupun yang baru lulus. Saat ini sekitar 50 anggota aktif tergabung dalam komunitas bernama Calan Project, yang menjadi wadah berbagi ide, membangun jejaring, serta menggelar pelatihan dan kegiatan kreatif secara rutin setiap bulan.
Menurut Anas, kehadiran komunitas ini menjawab persoalan klasik para desainer daerah yang sebelumnya terpisah-pisah dan minim dukungan ekosistem. Banyak lulusan sekolah fashion di luar daerah yang kesulitan berkembang setelah kembali ke Kalimantan Timur karena tidak memiliki lingkungan yang mendukung pemasaran maupun pengembangan karya.
Ia menilai potensi industri fashion di Kalimantan Timur sangat besar, terlebih dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Anas menegaskan bahwa IKN harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman, dan pelaku lokal perlu mempersiapkan diri sejak dini agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
Dalam membangun ekosistem fashion, Fascreeya Indonesia juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari sekolah modeling, pelaku industri pendukung, hingga lembaga pendidikan dan pemerintah. Kerja sama telah dilakukan dengan Politeknik Negeri Samarinda, BPVP, Bank Indonesia, serta sejumlah instansi lainnya untuk memperkuat sisi edukasi dan pengembangan kapasitas pelaku fashion.
Anas menekankan bahwa fashion bukan sekadar produk, tetapi juga media edukasi dan penyampai nilai budaya. Melalui karya-karyanya, ia kerap mengangkat cerita lokal, seperti tema kucing merah—satwa langka Kalimantan—yang ditampilkan dalam ajang Bali Fashion Trend sebagai upaya mengenalkan isu konservasi melalui busana.
Meski berada di industri yang sama, Anas memilih pendekatan kolaboratif dibanding bersaing secara individual. Ia meyakini bahwa industri kreatif tidak dapat berkembang besar jika berjalan sendiri, melainkan harus dibangun bersama melalui pertukaran gagasan, jejaring, dan semangat saling memberdayakan.
Ke depan, Anas dan para pelaku fashion Kalimantan Timur berencana membentuk asosiasi fashion berskala nasional dengan basis Chapter IKN Nusantara. Ia berharap kolaborasi antara komunitas, asosiasi, dan pemerintah dapat memperkuat ekosistem fashion daerah, sehingga pelaku lokal mampu mengambil peran strategis seiring berkembangnya IKN.(HW)
