Ancaman kanker serviks sebagai penyebab kematian nomor dua pada perempuan setelah kanker payudara disikapi serius oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Menggandeng BPJS Kesehatan, pemkab menggelar pemeriksaan Pap Smear gratis serentak untuk memperkuat benteng kesehatan perempuan sejak dini.
Layanan skrining cuma-cuma ini resmi dimulai pada Jumat (23/10/2026) di tiga titik fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Teluk Lingga, Sangatta Utara, dan Sangatta Selatan. Kegiatan preventif tersebut mengusung tema “Dengan Pap Smear Kita Cegah Kanker Leher Rahim pada Wanita Sejak Dini”.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan pentingnya kesadaran mendeteksi penyakit mematikan ini sedini mungkin. Upaya pencegahan, menurutnya, dilakukan berjenjang mulai dari edukasi primer hingga tersier.

“Untuk pencegahan dari awal, anak-anak perempuan kita kelas 5 dan 6 SD kita berikan imunisasi yaitu HPV, kemudian ini masuk juga di dalam program nasional,” jelas dr Yuwana.
Selain imunisasi dan tes IVA berbasis asam asetat, Pap Smear menjadi metode penting untuk memeriksa sel-sel patologi leher rahim guna melihat indikasi awal keganasan. Sejak kick-off perdana, animo warga tercatat cukup tinggi.
“Saat ini yang terdaftar untuk mengikuti Pap Smear sudah ada sebanyak 303 orang wanita, dan sisanya akan kita laksanakan di jadwal hari yang lain serta 21 puskesmas lainnya,” ungkap dr Yuwana.
Layanan kesehatan gratis ini semakin leluasa dinikmati warga berkat status Kutai Timur yang telah menyandang predikat Universal Health Coverage (UHC). Tingkat kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di daerah ini bahkan sudah melampaui target maksimal.
“Semua masyarakat kita tidak perlu khawatir lagi untuk berobat, karena semua sudah ditanggung oleh Pemkab Kutim, bahkan kepesertaannya sudah mencapai 106 persen,” tambah Yuwana.
Komitmen Kutim tersebut menuai pujian langsung dari Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah VIII, dr Herman Dinata Mihardja. Wilayah koordinasinya meliputi empat provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara.
“Alhamdulillah untuk Kabupaten Kutim ini adalah yang paling tinggi cakupannya,” puji dr Herman.
Tak hanya cakupan kepesertaan yang mencapai 106 persen, angka keaktifan peserta di Kutim juga menembus 97 persen. Herman menaruh harapan besar bahwa kolaborasi lintas dinas dapat mendorong angka keaktifan menyentuh 100 persen pada 2027 mendatang.
“Harapan pertama ya sehat, ibu-ibu semua sehat, karena kalau ibu sehat insya Allah keluarga pun sehat, dan jika ada tanda-tanda awal bisa segera dideteksi serta diterapi sedini mungkin,” tutup Herman.(Nad)

