Kutai Timur, – Seiring dengan melandainya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini mulai mengalihkan fokus kewaspadaan pada potensi bencana hidrometeorologi. Memasuki periode akhir tahun, BPBD Kutim secara intensif melakukan pemetaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi ancaman bencana banjir serta tanah longsor yang berpotensi terjadi di bulan Desember
‎
‎Kepala BPBD Kutim, Sulastin, menjelaskan bahwa wilayah Kutai Timur mencatat sedikitnya sembilan potensi bencana dalam Kajian Risiko Bencana (KRB), di mana banjir dan longsor menjadi ancaman berkala yang sering kali mengekor setelah musim kemarau panjang berlalu. Sesuai dengan data dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lonjakan intensitas hujan yang signifikan diperkirakan akan memuncak pada rentang November hingga Desember.  
‎
‎”Kutai Timur ini kan memiliki sembilan bencana di KRB ya. Yang paling sering terjadi kan kekeringan, karhutla ini, terus banjir. Nah, kita waspada sekali banjir ini nanti. Biasanya kan di Desember itu curah hujan lebih tinggi ya, nah itu kita waspadai lagi. Biasanya kan sudah kering, banjir, akhirnya kan terjadi longsor tuh. Nah, itu yang perlu kita waspadai,” ujar Kepala BPBD Kutim Sulastin saat dikonfirmasi di ruang kerjanya belum lama ini.
‎
‎Sebagai langkah konkret menghadapi transisi musim ini, BPBD Kutim mulai melakukan inventarisasi ulang sarana dan prasarana (sapras) penanggulangan banjir di tingkat kecamatan hingga tingkat rukun tetangga (RT). Pihaknya memastikan kelayakan peralatan seperti perahu karet dan unit evakuasi yang sebelumnya telah didistribusikan ke daerah-daerah rawan genangan, khususnya di wilayah Sangatta yang kerap mengalami banjir saat hujan deras turun.
‎
‎”Jadi harus diinventarisir lagi saprasnya, kan berbeda karhutla dengan banjir kan. Tetapi kalau untuk itu semua di kecamatan sudah terdistribusi untuk perahunya. Mudah-mudahan yang di kecamatan itu masih terpelihara dengan baik gitu loh, jadi jika banjir bisa difungsikan. Di RT pun ada yang sudah kita berikan. Memasuki November, Desember itu kan biasanya masa hujan curah hujannya lebih deras lebih kuat lagi,” ungkap Sulastin
‎
‎Selain penyiapan sapras internal, BPBD Kutim juga terus membangun koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk menangani potensi longsor akibat pergeseran tanah. Bersama BMKG sebagai mitra utama penyuplai data cuaca, Pemkab Kutim berkomitmen memastikan seluruh personel dan sarana siap siaga penuh demi meminimalkan dampak risiko bencana mendekati akhir tahun.(adv/fan)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *