Kutai Timur – Sungai Segoy yang berada di Desa Sumber Sari, Kecamatan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, dikenal sebagai habitat buaya badas atau buaya siam (Crocodylus siamensis). Keberadaan satwa langka ini menjadi salah satu ikon keanekaragaman hayati yang dimiliki daerah tersebut.
Buaya badas merupakan satwa liar yang dilindungi karena statusnya sangat kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Spesies ini termasuk sangat langka dan hanya ditemukan di dua wilayah di dunia, yakni di Indonesia, khususnya Kutai Timur, serta di Thailand.
Penelitian yang dilakukan Behler pada tahun 2010 hingga 2012 mencatat sekitar 75 ekor buaya badas dalam area survei seluas 20 kilometer persegi di kawasan tersebut. Meski demikian, hingga kini jumlah populasi secara keseluruhan belum pernah dihitung secara langsung.
Untuk dapat melihat buaya badas di habitat alaminya, pengunjung harus menyusuri aliran sungai kecil menggunakan perahu. Waktu terbaik untuk melakukan pengamatan biasanya pada malam hari karena satwa tersebut lebih aktif di waktu tersebut.
Camat Long Mesangat, Rapichin, menilai kawasan Sungai Segoy sebenarnya memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam. Hal ini didukung oleh kondisi wilayah yang berupa perairan rawa yang cukup luas.
“Potensinya sebenarnya cukup bagus untuk wisata karena wilayahnya berupa perairan rawa yang luas,” ujar Rapichin.
Namun demikian, pengembangan wisata di kawasan tersebut masih menghadapi beberapa hambatan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah kondisi lahan di sekitar habitat yang telah banyak ditanami kelapa sawit oleh masyarakat.
“Kendala utamanya karena di sekitar daratan sudah banyak kebun sawit milik masyarakat,” jelasnya.
Rapichin juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada program khusus dari pemerintah daerah, khususnya dari Dinas Pariwisata, untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan habitat buaya badas tersebut.
“Sejauh ini belum ada kegiatan yang dilakukan. Paling hanya sebatas kunjungan saja,” katanya.
Ia berharap ke depan pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap potensi wisata sekaligus upaya pelestarian buaya badas di wilayah tersebut.
“Sebenarnya kami berharap ada perhatian dari dinas terkait agar potensi ini bisa dikembangkan,” tambahnya.
Sebelumnya, kawasan tersebut sempat mendapatkan pendampingan dari Yayasan Ulin bersama Yasiwa yang melakukan pembinaan terhadap kelompok nelayan setempat. Kelompok tersebut membantu memantau kondisi habitat buaya serta menjaga jalur sungai.
Namun menurut Rapichin, pada tahun 2026 kerja sama tersebut kemungkinan telah berakhir karena tidak ada lagi komunikasi lanjutan.
Meski dikenal sebagai satwa buas, ia memastikan habitat buaya badas berada cukup jauh dari permukiman warga. Hanya saja dalam kondisi banjir, ada kemungkinan beberapa individu keluar dari habitatnya.
“Kalau saat banjir mungkin ada satu atau dua yang keluar, tapi pada umumnya habitatnya jauh dari pemukiman warga,” ungkapnya.
Dengan statusnya sebagai satwa langka dunia, keberadaan buaya badas di Sungai Segoy diharapkan dapat menjadi potensi wisata konservasi sekaligus menjaga kelestarian habitatnya di Kutai Timur.(Nad)
