Kutai Timur – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Apt Pranoto Kutai Timur, Dinan Ananda Perdana, mengatakan pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap layanan penyediaan makanan bergizi bagi siswa, khususnya terkait menu dan tingkat penerimaan anak-anak.
Dinan menyampaikan, sejauh ini komplain yang diterima masih dalam kategori wajar, terutama terkait rasa dan tekstur makanan. “Kami tidak 100 persen sempurna. Ada saja masukan, misalnya anak-anak kurang suka telur atau lebih memilih ayam dibanding ikan. Itu kami jadikan bahan evaluasi,” ujarnya.
Ia menegaskan setiap komplain ditindaklanjuti langsung oleh manajemen bersama tim produksi dan ahli gizi. Jika keluhan terjadi berulang, evaluasi menyeluruh dilakukan, termasuk penyesuaian menu. Namun, perubahan menu tidak dilakukan secara sepihak. “Kami harus memastikan keluhan tersebut mewakili banyak anak. Tidak mungkin mengganti menu ribuan porsi hanya karena beberapa anak tidak suka,” katanya.
Saat ini, SPPG Apt Pranoto melayani sekitar 2.750 porsi per hari untuk enam sekolah dan satu posyandu. Proses produksi dimulai pada dini hari, sekitar pukul 01.00–02.00 WITA, dan selesai sekitar pukul 07.00–08.00 WITA. Setelah dimasak, makanan didinginkan terlebih dahulu sebelum dikemas untuk menjaga kualitas dan mencegah pembusukan.
Dalam operasionalnya, SPPG didukung 45 personel yang terdiri dari relawan dapur serta staf inti, termasuk ahli gizi, akuntan, dan kepala SPPG. Pihaknya juga menyediakan fasilitas mess bagi karyawan untuk menunjang kelancaran produksi.

Untuk bahan baku, SPPG bekerja sama dengan Koperasi Pemuda Kutip Hebat yang membina kelompok tani lokal. Kerja sama ini dilakukan untuk memberdayakan petani lokal sekaligus menjaga ketersediaan pasokan pangan. “Jika terjadi kekurangan stok, kami tetap melibatkan toko-toko besar sebagai pelengkap,” jelas Dinan.
Terkait kendala, Dinan menyebut penyesuaian menu dengan selera lokal menjadi tantangan utama. Selain itu, terdapat pengembalian makanan ketika menu kurang disukai. Namun, makanan sisa tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk mengurangi pemborosan.
Dalam penggunaan penyedap rasa, pihaknya mengikuti arahan Badan Gizi Nasional dengan tidak menggunakan penyedap tertentu dan menggantinya dengan kaldu jamur dalam kadar terbatas. “Tujuannya agar rasa tetap baik tanpa berlebihan,” ujarnya.
Dinan berharap program pemenuhan gizi ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak. “Kami berharap anak-anak tumbuh sehat, tidak stunting, dan kelak menjadi generasi yang unggul. Itu menjadi kebanggaan bagi kami,” pungkasnya.
Ia menambahkan, menu dapat disesuaikan dengan kearifan lokal, seperti penggantian nasi dengan sagu atau umbi-umbian, selama tetap memenuhi prinsip gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, dan serat. Dengan dukungan ahli gizi yang telah dilatih Badan Gizi Nasional, SPPG Apt Pranoto optimistis layanan pemenuhan gizi dapat terus ditingkatkan.(Mei)
