Sangatta — Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang mengubah arah hidupnya. Salah satunya adalah Nur Laila, mantan kepala klinik yang kini bertahan sebagai pelaku usaha mikro dengan berjualan kue broncong tradisional di Sangatta.

Ditemui pada 22 Desember 2025, Nur Laila mengungkapkan bahwa sebelum terjun ke usaha kuliner rumahan, ia pernah bekerja di Klinik Shinergy dan menjabat sebagai kepala klinik. Namun, kebijakan pemindahan operasional klinik ke Samarinda membuatnya harus mengambil keputusan berat.

“Saya memilih tetap tinggal di Sangatta karena mempertimbangkan pendidikan anak-anak,” ujar Nur Laila.

Keputusan tersebut membuatnya kehilangan pekerjaan tetap. Demi mencukupi kebutuhan keluarga, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari menjadi guru pengganti, guru pesantren, hingga bekerja memotong ayam.

Titik balik kehidupan Nur Laila dimulai pada 2019, saat ia memberanikan diri membuka usaha kue broncong. Dengan modal awal sekitar Rp400 ribu, ia membeli bahan sederhana seperti tepung, gula, dan mentega, serta cetakan kue. Untuk memasak, ia bahkan harus meminjam kompor milik tetangga.

“Awalnya jualan di pinggir jalan tanpa payung dan peralatan seadanya,” kenangnya.

Kini, Nur Laila berjualan kue broncong di sekitar pasar induk Sangatta setiap hari, mulai pukul 06.00 hingga 13.00 WITA. Kue broncong buatannya dijual dengan harga Rp5.000 untuk empat buah.

Pendapatan dari usaha tersebut tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Kalau cuaca bagus, omzet kotor bisa sekitar Rp500 ribu sehari, bersihnya kurang lebih Rp300 ribu. Tapi kalau hujan, kadang cuma pulang modal,” katanya.

Kue broncong yang dijual merupakan kue tradisional khas Makassar. Meski sempat mencoba berbagai varian topping seperti cokelat dan keju, Nur Laila memilih kembali ke rasa original karena dinilai pelanggan lebih mempertahankan cita rasa khas.

“Pembeli bilang kalau pakai topping, rasa aslinya jadi hilang,” ungkapnya.

Dengan anak-anak yang kini mulai beranjak dewasa, Nur Laila tetap setia menjalani usahanya secara mandiri. Kisahnya menjadi cerminan ketangguhan perempuan pelaku UMKM yang mampu bangkit dari keterbatasan, berbekal kerja keras, ketekunan, dan keyakinan untuk terus melangkah meski keadaan tak selalu mudah.(Mei)

By IB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *