SANGATTA – Sebuah patung gajah yang dibuat oleh masyarakat di Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, dikirim ke kediaman Joko Widodo di Solo,sebagai bentuk apresiasi sekaligus ungkapan kecintaan kepada Presiden ke 7 Indonesia . Patung tersebut merupakan gagasan Muhammad Yasin Bowo, pencetus Santri Bersatu di Kongbeng Kutai Timur, yang sejak awal ingin menghadirkan simbol persatuan, kekuatan, dan kewibawaan dalam semangat menuju Indonesia Emas.
Muhammad Yasin Bowo menjelaskan, gagasan mengenai patung gajah sebenarnya telah muncul sejak beberapa waktu lalu, beriringan dengan semangat yang dibangun Santri Bersatu pada masa pemerintahan Joko Widodo. Menurutnya, filosofi gajah terinspirasi dari sosok Patih Gajah Mada dan semangat Sumpah Palapa yang menggambarkan tekad kuat untuk menyatukan Nusantara.
“Kalau filosofi besarnya, patung gajah ini menggambarkan kekuatan, keseriusan dan kewibawaan. Gajah juga merupakan binatang yang bertoleransi kepada siapa saja,” ujar Bowo.
Filosofi tersebut, lanjut Bowo, dinilai relevan dengan kondisi masyarakat di Kongbeng yang terdiri dari berbagai suku, adat istiadat dan budaya. Karena itu, gajah dipilih sebagai simbol yang mampu merepresentasikan semangat kebersamaan tanpa membedakan latar belakang masyarakat.
Bowo menegaskan, patung yang saat ini dikirim ke solo masih berupa prototipe atau replika. Pengerjaannya dilakukan oleh pengrajin di Kongbeng menggunakan material sementara berupa kayu, bambu dan kertas. Nantinya, patung tersebut akan dikembangkan menggunakan bahan fiber dan resin agar lebih kuat dan memiliki bentuk yang lebih permanen.
“Yang dikirim ke Solo itu sebenarnya masih prototipe atau replika. Sementara bahannya kayu, bambu dan kertas. Nanti akan dibuat menggunakan fiber dan resin,” jelasnya.
Patung tersebut rencananya ditempatkan di Jakarta, tepatnya di lingkungan kantor PSI. Bowo menyebut pengiriman patung itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk kepentingan politik praktis, melainkan sebagai hadiah dan ungkapan terima kasih dari Santri Bersatu atas program serta gagasan yang pernah dijalankan pada masa pemerintahan Joko Widodo.

Menurut Bowo, salah satu latar belakang apresiasi tersebut berkaitan dengan gagasan pembacaan Alquran secara nasional dalam rangka Hari Santri Nasional. Santri Bersatu dari Kutai Timur sebelumnya turut mengajukan gagasan tersebut kepada pemerintah agar kegiatan pembacaan Alquran dapat dilakukan secara nasional.
“Ini bentuk apresiasi atau terima kasih kita kepada Pak Jokowi yang telah mengawal program pembacaan Alquran secara nasional di Hari Santri Nasional,” katanya.
Ia juga memastikan pembuatan patung tersebut dibiayai secara mandiri oleh Santri Bersatu. Tidak ada dana dari partai politik, donatur maupun Joko Widodo. Untuk pembuatan patungnya sendiri, Bowo memperkirakan biaya mencapai sekitar Rp60 juta, sedangkan jika ditambah biaya perjalanan dan pengiriman, total pengeluaran berada di kisaran Rp90 juta.
Sementara itu, Ketua PSI Kutai Timur Benyamin Yahuda membenarkan bahwa patung gajah tersebut memang dibuat di Kongbeng, Kutai Timur. Ia menyebut keberadaan patung itu merupakan bentuk kecintaan dan apresiasi masyarakat kepada Joko Widodo.
“Ya, betul sekali. Itu bentuk kecintaan dan apresiasi masyarakat kepada beliau,” ujar Benyamin.
Menurut Benyamin, masyarakat yang terlibat dalam pembuatan patung tersebut merupakan kelompok yang selama ini memiliki perhatian terhadap sosok Joko Widodo. Setelah mengetahui Joko Widodo kini berada di lingkungan PSI, mereka kemudian melihat adanya ruang untuk menyampaikan apresiasi tersebut melalui simbol patung gajah.
Benyamin juga menyebut pengrajin yang membuat patung tersebut adalah kelompok masyarakat di Kongbeng yang sebelumnya pernah membuat patung gajah berukuran lebih besar untuk ditempatkan di kawasan pintu gerbang. Salah satu nama yang diketahuinya terlibat dalam pengerjaan patung tersebut adalah Muhammad Yasin Bowo.
“Pengrajinnya dari Kongbeng. Kelompok itu juga yang pernah membuat gajah di pintu gerbang. Yang sekarang dikirim ini sebenarnya dibuat oleh kelompok yang sama,” jelas Benyamin.
Patung tersebut diketahui telah diberangkatkan dari Kutai Timur sekitar 9 Agustus. Perjalanan menuju Jakarta menjadi bagian dari proses pengiriman simbol yang lahir dari masyarakat Kongbeng tersebut.
Bowo berharap patung gajah itu tidak hanya dipandang sebagai sebuah karya seni, tetapi juga mampu membawa pesan tentang persatuan dan toleransi. Ia ingin simbol tersebut mengingatkan bahwa keberagaman suku, budaya dan adat istiadat bukan menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
Bagi masyarakat Kongbeng, patung gajah tersebut akhirnya menjadi representasi dari semangat Santri Bersatu: kekuatan, keteguhan, kewibawaan dan persatuan dalam menjaga semangat Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.(Nad)
