NEHAS LIAH BING – Rangkaian kegiatan adat Lomplai di Desa Nehas Liah Bing terus berlanjut dengan penuh makna dan semangat kebersamaan. Memasuki hari kedua, masyarakat kembali melaksanakan prosesi adat yang menjadi bagian penting dalam siklus tradisi leluhur.
Pemuda Dayak Desa Nehas Liah Bing, Matias Yok, menjelaskan bahwa pada hari kedua ini kegiatan difokuskan pada prosesi lanjutan pengambilan dan penggantungan buah sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap alam.
“Untuk hari kedua, kegiatan utamanya adalah penggantungan buah ketete di wilayah hilir kampung. Ini merupakan lanjutan dari rangkaian sebelumnya yang dilakukan di hulu,” ujarnya.

Prosesi ini menjadi simbol keseimbangan antara wilayah hulu dan hilir, sekaligus mempererat hubungan masyarakat dengan alam serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Setelah rangkaian tersebut, masyarakat akan memasuki masa istirahat selama tiga hari sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya, yakni ritual unding atau pemberian nama pada padi. Ritual ini dilakukan setelah padi dipanen dari ladang, sebelum kemudian disimpan ke dalam lumbung sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil panen.
Tak hanya sarat makna, kegiatan Lomplai juga menjadi ajang mempererat kebersamaan, khususnya bagi para pemuda. Matias mengungkapkan, setelah prosesi pengambilan buah, masyarakat akan melakukan aktivitas bersama menyusuri sungai menggunakan rakit.
“Setelah kegiatan, kami akan pulang dengan rakit sambil mandi di sungai. Ada yang berenang, ada juga yang di rakit. Di situ biasanya jadi momen seru-seruan dan kebersamaan,” tambahnya.
Lebih dari sekadar tradisi, Lomplai juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Menurut Matias, peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam mengenalkan adat sejak dini.
“Ada yang sudah diajarkan sejak kecil, ada juga yang belajar dari teman-temannya. Yang penting anak-anak dirangkul dan diajak ikut, supaya mereka tertarik dan mau melestarikan budaya ini,” jelasnya.
Rangkaian Lomplai akan mencapai puncaknya pada tanggal 20, yang akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, termasuk tarian di atas sungai dan ritual Hudok sebagai simbol perlindungan bagi masyarakat.
Melalui rangkaian hari kedua ini, semangat gotong royong, kebersamaan, dan pelestarian budaya Dayak di Desa Nehas Liah Bing terus terjaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.(Nad)
