KUTAI TIMUR – Rangkaian kegiatan adat Lomplai 2025 terus berlangsung di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Wahau, dengan suasana penuh kebersamaan dan gotong royong masyarakat, Selasa.
Bendahara panitia Lomplai 2025, Emil Yani Dea, mengatakan bahwa kegiatan yang berlangsung hari ini merupakan bagian dari ritual Lak Pesiay yang melibatkan partisipasi aktif warga setempat.
“Seluruh masyarakat terlibat, masing-masing punya tugas. Ada yang membangun pondok darurat, ada juga ibu-ibu yang menyiapkan makanan seperti lemang dan hidangan lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat yang terlibat tidak hanya berasal dari Desa Nehas Liah Bing, tetapi juga bagian dari enam desa dalam komunitas yang memiliki tradisi serupa. Namun, pelaksanaan ritual dilakukan secara bergiliran di masing-masing wilayah.
“Beberapa kampung sudah melaksanakan ritual sebelumnya, dan hari ini giliran di wilayah Nehas Liah Bing,” jelas Emil.

Dalam rangkaian kegiatan, masyarakat juga menyiapkan berbagai perlengkapan ritual secara mandiri, seperti beras, ketan, hingga atribut keluarga yang nantinya akan dipasang pada rakit dan dihanyutkan ke sungai sebagai bagian dari prosesi adat.
Selain itu, terdapat pula pembuatan “ledok”, yakni kain yang diikat pada bambu besar dan dikibarkan menghadap sungai. Menurut Emil, simbol tersebut akan dibiarkan tetap berdiri hingga pelaksanaan Lomplai di tahun berikutnya.
Tak hanya itu, aktivitas lain juga dilakukan, seperti pencarian rotan dan kayu oleh kaum pria, serta pengambilan buah ketetet oleh perempuan di kawasan hutan hulu sungai untuk kebutuhan ritual.
Meski sebagian besar kegiatan dapat disaksikan masyarakat umum, Emil mengungkapkan bahwa ada beberapa rangkaian adat yang bersifat sakral dan tidak bisa diikuti oleh sembarang orang.
“Seperti puncak acara Lomplai dan ritual pembersihan kampung, itu hanya boleh diikuti oleh tetua adat. Masyarakat luar hanya diperbolehkan melihat atau mendokumentasikan dari luar,” terangnya.
Ia menegaskan, pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga kesakralan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.
Rangkaian Lomplai sendiri dijadwalkan masih akan berlangsung hingga puncak acara dalam beberapa waktu ke depan, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat istiadat.(Nad)
