SANGATTA — Komunitas Sampul Kutai Timur resmi melaksanakan Grand Launching, Musyawarah, dan Gotong Royong Program Bumi Percontohan pada 15–16 November 2025 bersama masyarakat RT 50 Sangatta Utara. Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan program selama satu bulan ke depan hingga 15 Desember 2025, yang bertujuan mengatasi persoalan lingkungan dan merespons dampak perubahan iklim di Kabupaten Kutai Timur.
Program ini lahir dari keresahan dan hasil riset yang dilakukan Komunitas Sampul Kutim, yang menemukan bahwa Kutai Timur mengalami alih fungsi lahan dan deforestasi mencapai 83%. Kondisi tersebut memicu perubahan pola hujan, suhu ekstrem, serta meningkatnya konsumsi dan produksi sampah rumah tangga. Temuan lain mengungkap bahwa sampah rumah tangga menjadi komposisi sampah terbesar, dengan Sangatta Utara sebagai salah satu penyumbang terbanyak.
Grand Launching Program Bumi Percontohan disambut antusias warga Gg. Arridho RT 50. Masyarakat menilai langkah yang dilakukan para pemuda merupakan bentuk kontribusi nyata yang diperlukan saat ini.
“Ini langkah konkret, bukan sekadar upacara seremonial. Pemuda harus terus berinovasi dan melakukan pengabdian yang berkelanjutan seperti ini. Kami sangat mendukung,” ujar salah satu warga Gg. Arridho.
Selama satu bulan, Komunitas Sampul Kutim akan membangun Kebun Berkelanjutan sebagai prototipe kebun produktif untuk warga. Kebun ini akan berisi budidaya maggot, ayam petelur, ikan segar, tanaman produktif seperti kangkung dan sawi, serta instalasi hidroponik. Sistem tersebut dirancang saling terintegrasi, di mana sampah organik rumah tangga diolah menjadi pakan maggot, lalu maggot digunakan sebagai pakan ayam dan ikan.
“Ketika semua komponen kebun saling terhubung, biaya operasional menjadi rendah. Saat panen tiba, hasilnya akan bernilai ekonomi dan dapat digunakan untuk memperluas kebun. Selain penghijauan, ini juga membantu menciptakan ketahanan pangan bagi warga sekitar,” jelas Rachmad Taufiqih, Founder Komunitas Sampul Kutim.
Ketua Panitia, Husain Irma Pratam, menyampaikan apresiasi kepada para sponsor yang mendukung program ini: Yayasan Partisipasi Muda, Kipas Embun Sangatta, Catering Nita, serta para media partner. Ia juga mengajak warga RT 50 untuk bersama-sama menjaga dan menyukseskan program selama satu bulan ke depan.
“Kami berharap gerakan ini dapat membantu mengurangi dampak krisis iklim, mulai dari deforestasi hingga efek rumah kaca. Dukungan warga menjadi kunci agar program ini berjalan sesuai tujuan,” ujarnya.
Rachmad Taufiqih juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan para pembina dan inisiator program—Ahmad Dany, Pebri Sara, Adnadina Nursasi, dan Aliefvia—yang telah melakukan riset panjang hingga mempresentasikan konsep ini pada acara YCIF di Jakarta.
Dengan terlaksananya Program Bumi Percontohan, Komunitas Sampul Kutim berharap gerakan ini dapat menjadi model berkelanjutan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi bentuk kontribusi lokal dalam menghadapi krisis iklim di Kabupaten Kutai Timur.(IB)*
