Kutai Timur – Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kutai Timur berhasil menghidupkan kembali ratusan koperasi yang sebelumnya tidak aktif. Melalui berbagai program pembinaan dan inovasi, jumlah koperasi aktif meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan, Firman Wahyudi, mengungkapkan bahwa saat dirinya mulai bertugas pada akhir 2020, kondisi koperasi di Kutai Timur masih jauh dari harapan.
“Dari sekitar 700 koperasi yang tercatat, hanya 47 yang aktif. Ini tentu menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Firman.
Ia menjelaskan, rendahnya kualitas sumber daya manusia serta minimnya pelatihan menjadi penyebab utama tidak optimalnya kinerja koperasi saat itu.
“Dulu pelatihan hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun dengan jumlah peserta yang terbatas. Ini membuat banyak koperasi tidak berkembang,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi langsung koperasi serta meningkatkan intensitas pembinaan.
“Kami aktif turun ke lapangan, berkomunikasi langsung dengan koperasi, dan mendorong pemerintah daerah untuk memberi dukungan lebih besar,” katanya.
Hasilnya, dalam satu tahun pelatihan dapat dilaksanakan hingga 10 kali. Upaya tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah koperasi aktif.
“Sekarang koperasi aktif sudah mencapai lebih dari 600 unit. Ini peningkatan yang sangat signifikan dibanding sebelumnya,” ungkap Firman.
Meski demikian, ia mengakui masih ada koperasi yang belum aktif, terutama koperasi lama yang sulit dibubarkan karena terkendala proses birokrasi.
Selain itu, inovasi juga dilakukan melalui penyederhanaan pelaporan Rapat Anggota Tahunan (RAT).
“Kami buatkan format laporan yang sederhana agar koperasi lebih mudah dalam menyusun laporan sesuai bidang usahanya,” ujarnya.
Atas keberhasilan tersebut, Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur meraih penghargaan sebagai pembina koperasi terbaik tingkat Provinsi Kalimantan Timur selama dua tahun berturut-turut.
“Alhamdulillah, capaian ini juga mendapat perhatian di tingkat nasional,” tambahnya.

Firman juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengembangkan sistem digital untuk memantau kondisi koperasi.
“Melalui aplikasi SIGAP ini, masyarakat bisa melihat status koperasi, apakah sehat, dalam pengawasan, atau akan dibubarkan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, sinergi antara koperasi dan UMKM juga terus diperkuat melalui berbagai kegiatan pameran.
“Setiap koperasi wajib membawa produk unggulan daerahnya saat kegiatan. Ini untuk membantu UMKM agar lebih berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar koperasi di Kutai Timur bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, dan kini mulai dilibatkan oleh perusahaan dalam berbagai aktivitas operasional.
Di akhir, Firman menegaskan pentingnya pembinaan sejak awal pembentukan koperasi.
“Kami selalu mengingatkan agar masyarakat tidak asal membentuk koperasi tanpa pemahaman yang cukup. Karena itu, sebelum didirikan harus melalui penyuluhan terlebih dahulu,” tegasnya.
Ia pun optimistis koperasi di Kutai Timur akan terus berkembang dan menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat.(Nad)
