(Nora Ramadhani Kadisperindag Kutai Timur)
Kutai Timur – Harga cabai di Kabupaten Kutai Timur mengalami lonjakan signifikan pasca Lebaran. Jika sebelumnya saat inspeksi mendadak (sidak) di bulan Ramadan harga cabai masih berada di kisaran Rp70.000 per kilogram, kini melonjak hingga Rp200.000 sampai Rp220.000 per kilogram, tergantung jenis dan pedagang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini bukan hanya terjadi di daerah, melainkan fenomena nasional.
“Lonjakan harga cabai ini terjadi secara nasional, tidak hanya di Kutai Timur. Penyebab utamanya adalah tingginya permintaan masyarakat pasca Lebaran, sementara pasokan dari daerah penghasil seperti Sulawesi dan Jawa sedang kosong,” ujar Nora.

Ia menambahkan, sebelumnya harga masih relatif stabil karena ditopang oleh panen lokal dan pasokan yang cukup melimpah selama Ramadan. Namun, stok tersebut telah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa.
“Produksi lokal kita hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen dari kebutuhan daerah. Stok itu sudah habis saat Ramadan, sementara pasokan dari luar daerah juga tidak tersedia akibat beberapa wilayah mengalami gagal panen,” jelasnya.
200 sampai 220 itu sudah kenaikan yang tidak biasa,karena stok yang kosong tapi pada hari ini Kamis 26 Maret 2026 pihak Disperindag sudah mengecek harga dan turun menjadi 100 ribu imbuhnya.
“Hal ini cukup melegakan,mungkin karena adanya kapal Tanker Pertamina sudah lolos dari selat Hormuz,jadi insya alloh stok BBM Indonesia aman,Paling tidak sampai 40 hari kedepan ungkapnya.”

Selain faktor produksi, distribusi juga menjadi salah satu kendala. Nora menyebut adanya kekhawatiran pelaku usaha terkait biaya operasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM), turut memengaruhi kelancaran distribusi barang.
“Walaupun harga BBM di Indonesia masih relatif stabil, kekhawatiran global akibat situasi geopolitik, termasuk isu perang, sedikit banyak memengaruhi perhitungan para distributor. Mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menyalurkan barang,” katanya.
Tidak hanya cabai, beberapa komoditas lain seperti gula dan tepung juga mengalami kenaikan harga. Hal ini dipicu oleh menipisnya stok serta tingginya permintaan pasar.
“Kalau stok menipis sementara permintaan tinggi, otomatis harga akan naik. Ditambah faktor distribusi yang ikut terdampak,” tambah Nora.
Disperindag Kutai Timur memastikan akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran guna menjaga stabilitas dan mengantisipasi lonjakan harga lebih lanjut.(Nad)
