Kutai Timur – Minat wisatawan mancanegara terhadap kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), Kalimantan Timur, terus mengalami peningkatan dalam kurun tiga tahun terakhir. Tren wisata global yang kini lebih berorientasi pada alam dan konservasi menjadi pendorong utama meningkatnya jumlah pengunjung asing ke kawasan tersebut.
Kasubbag Tata Usaha Balai TNK, Kristina Nainggolan, menjelaskan bahwa peningkatan ini mencerminkan perubahan preferensi wisata yang semakin menekankan pada pengalaman alam sekaligus edukasi lingkungan.
“Pariwisata saat ini memang bergeser ke wisata alam, terutama kawasan konservasi. Kesadaran masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara, terhadap pentingnya pelestarian lingkungan semakin tinggi,” ujar Kristina.
Data Balai TNK mencatat, jumlah wisatawan mancanegara pada tahun 2023 mencapai 475 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 482 orang pada 2024, dan melonjak cukup tajam pada 2025 dengan total kunjungan sebanyak 658 orang.
Kristina menuturkan, daya tarik utama TNK terletak pada keberadaan satwa endemik Kalimantan yang masih hidup bebas di habitat aslinya. Orangutan menjadi primadona sekaligus magnet terbesar bagi wisatawan asing.
“Sebagian besar wisatawan mancanegara datang untuk melihat orangutan secara langsung di alam liar. Mereka ingin memahami perilaku satwa tersebut sekaligus menikmati keindahan hutan hujan tropis Kalimantan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sekitar 90 persen wisatawan mancanegara menjadikan Prevab sebagai tujuan utama kunjungan. Kawasan ini dikenal sebagai habitat alami orangutan dan hanya dapat dikunjungi melalui paket wisata dengan jumlah terbatas.
Selain orangutan, pengunjung juga berpeluang menjumpai satwa endemik lainnya, seperti bekantan, berbagai jenis burung khas Kalimantan, hingga satwa nokturnal yang dapat diamati pada waktu tertentu.
Dalam pengelolaannya, Balai TNK menerapkan konsep wisata berbasis konservasi dengan membatasi jumlah pengunjung serta mengatur waktu dan jalur jelajah, guna menjaga keseimbangan ekosistem.
“Prinsip konservasi tetap menjadi prioritas utama. Seluruh aktivitas wisata diatur agar tidak mengganggu satwa maupun habitatnya,” tegas Kristina.
Pengelolaan wisata di kawasan TNK juga melibatkan masyarakat sekitar melalui kelompok sadar wisata, terutama di destinasi yang telah memiliki fasilitas penunjang.
Tak hanya memberikan pengalaman wisata alam, peningkatan kunjungan ini turut memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui penjualan tiket masuk kawasan wisata.
Balai TNK berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut dengan tetap menjaga keseimbangan antara upaya pelestarian dan pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan.
“Ke depan, kami berharap Taman Nasional Kutai tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat edukasi konservasi bertaraf internasional,” tutupnya.(IB)
