KUTAI TIMUR – Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur, Irma Yuwinda, menegaskan pentingnya menjaga martabat dan fungsi guru dalam proses pembelajaran. Hal tersebut ia sampaikan saat ditemui usai pelaksanaan peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Kutai Timur. Menurutnya, penegasan terkait fungsi guru telah disampaikan langsung oleh Bupati melalui pidato Menteri Pendidikan yang dibacakan pada apel peringatan HGN.
Irma menjelaskan bahwa saat ini guru dituntut untuk bekerja lebih inovatif, bermakna, dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan pendidikan. Ia juga menyoroti fenomena kecenderungan guru sering disalahkan ketika terjadi permasalahan antara siswa dan orang tua. Menurutnya, pemerintah telah memberikan perlindungan hukum untuk menjaga marwah profesi guru.
“Ketika ada hal yang dirasa kurang berkenan dari sisi orang tua terhadap guru, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan memberikan pendampingan dan perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk melalui skema restorative justice,” jelasnya.
Terkait dengan penanganan kasus bullying di sekolah, Irma menegaskan bahwa seluruh satuan pendidikan memiliki Bimbingan Konseling (BK) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan. Ia menjelaskan bahwa kategori bullying memiliki level tertentu dan harus melalui assessment yang tepat. “Tidak semua tindakan langsung dikategorikan bullying, ada tahapan dan klasifikasinya,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Irma juga menyampaikan rasa bangga atas capaian guru Kutai Timur dalam ajang Porseni Guru PGRI se-Kalimantan Timur, di mana Kutai Timur berhasil meraih Juara Umum 3 dengan perolehan 4 emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Prestasi tersebut menjadi motivasi untuk pengembangan strategi event berikutnya, terutama pada nomor tanding beregu.
Selain itu, Dinas Pendidikan juga menegaskan komitmen terhadap penguatan kurikulum Muatan Lokal Bahasa Kutai yang kini diterapkan mulai dari kelas 1 SD hingga SMP. Bahasa Kutai diajarkan oleh guru khusus yang telah mengikuti pelatihan (Bimtek) oleh Balai Bahasa Provinsi. Kurikulum dan buku ajarnya juga telah disiapkan secara resmi untuk mendukung proses pembelajaran.
Irma turut memaparkan dukungan fasilitas dan peningkatan kompetensi guru melalui berbagai program pemerintah daerah, termasuk pelatihan digitalisasi dan 40 beasiswa, baik beasiswa stimulan maupun beasiswa hafiz dan hafizah. Saat ini Kutai Timur juga tengah mengembangkan Kandidat Sekolah Rujukan Google, dengan target 35 sekolah dan 20 sekolah yang diharapkan menjadi sekolah rujukan pada 2026. “Kami sudah memiliki 54 fasilitator, terbanyak di Indonesia bahkan Asia Pasifik pada kategori Google for Education,” ungkapnya.
Sementara terkait infrastruktur, ia menyebut penguatan akses listrik dan internet menjadi prioritas karena pembelajaran digital interaktif memerlukan dukungan penuh. “Saat ini sudah berjalan, terutama untuk sekolah-sekolah yang menggunakan solar panel 10.000 watt guna mendukung operasional peralatan teknologi,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa program Sekolah Rakyat masih dikoordinasikan lebih lanjut bersama Dinas Sosial dan Bappeda mengenai konsep dan pembagian peran.(Nad)
