Penyelenggaraan Anugerah Kebudayaan Kutai Timur tahun ini tampil lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya. Hal itu diungkapkan Padliansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, yang menyebut bahwa skala acara diperkecil akibat penyesuaian anggaran. “Perbedaan paling signifikan ada di tampilan dan tata panggung. Tahun ini lebih kecil karena menyesuaikan anggaran,” ujarnya.
Meski penyederhanaan dilakukan, esensi kegiatan tetap dipertahankan. Padliansyah menegaskan bahwa para seniman dan budayawan dari berbagai paguyuban tetap mendapat ruang tampil, tidak hanya dari suku Kutai dan Dayak, tetapi juga komunitas lain. Pada malam penutupan, panitia menghadirkan pertunjukan wayang orang Panoram serta Kayok yang dibawakan seniman lokal.
Rangkaian lomba budaya juga menjadi daya tarik. Mulai dari lomba tari hingga lomba menyanyi lagu “Magic Land” yang kini memiliki empat versi, termasuk versi Inggris dan Korea. Seluruh lomba dibuka untuk masyarakat umum se-Kutim. “Ada juga peserta dari Bengalon, tapi jumlah pastinya masih menunggu laporan panitia pelaksana,” jelasnya.
Dari sisi anggaran, Padliansyah mengonfirmasi adanya pengurangan sekitar 10 persen dibanding tahun lalu. Konsekuensinya, UMKM yang sebelumnya difasilitasi gratis kini dikenakan biaya kontribusi, meski tetap disubsidi untuk menutupi kebutuhan sewa, listrik, dan instalasi. Kebijakan ini diberlakukan selama tiga hari penyelenggaraan acara.
Panitia juga diminta mencatat omzet harian UMKM sebagai indikator kesuksesan acara. Selain itu, jumlah pengunjung akan menjadi bahan evaluasi karena kegiatan tahun ini terbagi di beberapa lokasi. Pada 21–23 nanti, pameran seni budaya Islam di Masjid Agung dan seminar sejarah Islam Kutim juga akan dilaksanakan.
Dibahas pula rencana penulisan dua buku besar tahun depan, yaitu sejarah kebudayaan Islam Kutai Timur serta perkembangan budaya daerah. Langkah ini menjadi tindak lanjut amanah Bupati agar sejarah lokal terdokumentasi secara ilmiah dan sistematis.
Dalam kesempatan itu, Padliansyah juga menjelaskan perkembangan rencana pembangunan museum daerah. Anggaran yang sempat tertunda kini kembali dimasukkan sebesar Rp2,5 miliar. Lahan museum di Jalan Soekarno Hatta juga telah dibebaskan sejak era Bupati Isran Noor dan akan dilengkapi gedung kesenian, panggung terbuka, serta area UMKM.
Upaya revitalisasi bahasa daerah turut menjadi fokus. Muatan lokal Bahasa Kutai telah berjalan 2–3 tahun terakhir, dilengkapi dengan Kamus Bahasa Kutai dan pelatihan guru. Sejumlah lomba budaya seperti taksu dan tikilan kembali digelar sebagai bagian dari pelestarian seni tradisional. Padliansyah berharap serangkaian program ini mampu memperkuat identitas budaya Kutai Timur ke depan.(LadyF)*
