Insight Borneo.com – Peluncuran produk air minum dalam kemasan (AMDK) SANGATTAQUA oleh Perumdam Tirta Tuah Benua Kutai Timur pada Jumat (4/7/2025) menjadi momen bersejarah bagi Pemkab Kutim. Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyebut ini adalah realisasi dari mimpi panjang yang sudah dirintis sejak lebih dari satu dekade lalu.
“Ya, alhamdulillah sebagaimana tadi yang saya sampaikan dalam sambutan, ini adalah impian yang lama sebenarnya sejak tahun 2012. Namun dengan berbagai macam pertimbangan kita belum memproduksi ini,” kata Ardiansyah.
Menurutnya, upaya menghadirkan produk air minum berkualitas lokal sempat dimulai melalui anjungan air minum yang hanya disediakan di titik-titik tertentu. Namun saat ini, Kutim telah siap memproduksi massal air minum dalam kemasan.
“Alhamdulillah untuk tahap pertamanya anjungan sudah kita mulai, ya, anjungan air minum dan itu tidak diproduksi massal. Karena hanya kita taruh di beberapa tempat-tempat khusus tadi seperti yang saya katakan. Nah, hari ini kita akan memproduksi massal air dalam kemasan ini,” jelasnya.
Bupati juga menegaskan bahwa kantor-kantor pemerintahan akan menjadi konsumen utama produk ini, mengingat AMDK ini adalah produk dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Tapi saya yakin ya, karena ini adalah punya BUMD maka kita siap ini kepada kantor-kantor pemerintahan, itu adalah konsumen yang paling utama. Saya minta,” tegasnya.
Ia pun meminta Perumdam segera melakukan koordinasi dengan seluruh pihak, termasuk distributor lokal. Produk ini, kata dia, juga akan menjadi sponsor utama dalam pelaksanaan MTQ tingkat Kalimantan Timur 2025, di mana Kutai Timur bertindak sebagai tuan rumah.
“Ini sponsor utama nantinya untuk kegiatan MTQ tingkat Kalimantan Timur yang Kutai Timur menjadi tuan rumah. Semua persyaratan sudah selesai, semua sertifikat sudah selesai. Jadi sudah siap untuk produksi secara massal,” tambah Ardiansyah.
Saat ditanya soal rencana distribusi ke luar daerah, Ardiansyah mengatakan fokus utama masih di pasar lokal Kutim. Namun peluang untuk ekspansi tetap terbuka jika ada permintaan dari luar.
“Sepertinya pemenuhan dalam negeri. Pemenuhan di internal dulu, kayaknya untuk Kutai Timur dulu. Ini yang paling cukup banyak, cukup besar punya pasarannya. Kecuali kalau memang ada permintaan luar, ya kenapa tidak. Itu peluang,” tutupnya.*(IB)

